55 NEWS – Masa depan pengembangan kilang minyak di Indonesia, sebuah pilar penting dalam ketahanan energi nasional, kini berada di persimpangan jalan. Pemerintah dituntut untuk segera mengambil keputusan strategis dan memberikan arahan yang jelas terkait kebijakan energi nasional, seiring dengan dinamika bauran energi yang telah disepakati.

Related Post
Sugeng Suparwoto, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, menekankan bahwa target ketahanan energi tidak dapat dipisahkan dari rencana pengembangan kilang. Namun, akar permasalahan yang lebih dalam terletak pada kebijakan pemerintah terkait pengendalian konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Jika kita sudah merumuskan bauran energi dan menentukannya, bagaimana cara memenuhinya? Apakah kita biarkan konsumsi BBM terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kendaraan, tanpa pengendalian? Kendaraan listrik (EV) memang mendapatkan insentif, tetapi pertumbuhannya belum seimbang dengan kendaraan BBM. EV baru menyumbang 12% per tahun, artinya kendaraan BBM tetap naik lebih tinggi," jelas Sugeng di Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Menurut Sugeng, meskipun amanat untuk meningkatkan kapasitas kilang telah diberikan kepada PT Pertamina (Persero), pemerintah tidak bisa lepas tangan begitu saja. Pemerintah perlu memberikan arahan yang jelas mengenai arah kebijakan energi.
Roadmap pembangunan kilang sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Namun, kondisi global dan pandemi COVID-19 telah memengaruhi arah kebijakan energi. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis untuk mendukung ketahanan energi melalui pengembangan kilang.
Sugeng menambahkan bahwa fleksibilitas kilang juga perlu ditingkatkan agar Indonesia tidak bergantung pada satu jenis minyak mentah. "RDMP harus diperbarui, tidak hanya kapasitas tetapi juga fleksibilitas," ujarnya.
Saat ini, Pertamina tengah menjalankan Refinery Development Master Plan (RDMP) yang meliputi revitalisasi kilang Balikpapan, Balongan, Cilacap, Dumai, dan Plaju. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan fleksibilitas pengolahan minyak mentah.
Kilang Balikpapan menjadi proyek terbesar dalam RDMP, dengan target peningkatan kapasitas pengolahan dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Pertamina menargetkan RDMP Balikpapan selesai pada akhir tahun ini. Kilang Balongan telah menyelesaikan proses revamping, meningkatkan kapasitas dari 125.000 barel per hari menjadi 150.000 barel per hari.
Sementara itu, kilang Cilacap, Dumai, dan Plaju difokuskan pada peningkatan fleksibilitas, terutama kemampuan mengolah crude dengan kandungan sulfur tinggi (sour crude). Di Cilacap dan Dumai, Pertamina juga mengembangkan konsep green refinery untuk mendukung produksi bahan bakar rendah emisi dan sejalan dengan agenda transisi energi nasional.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar