55 NEWS – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya tren penurunan harga beras di berbagai tingkatan, mulai dari penggilingan, grosir, hingga eceran, sepanjang November 2025. Data ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah ini pertanda baik atau justru sinyal masalah bagi para petani?

Related Post
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan mengalami penurunan sebesar 0,88% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Namun, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), harga masih menunjukkan kenaikan sebesar 6%.

Lebih detail, Pudji menjelaskan bahwa beras premium di penggilingan mengalami penurunan harga sebesar 0,66% (mtm), namun naik 5,48% (yoy). Sementara itu, beras medium mengalami penurunan lebih signifikan, yaitu 0,97% (mtm), dengan kenaikan 6,46% (yoy).
Penurunan harga juga terjadi di tingkat grosir dan eceran. Di tingkat grosir, terjadi deflasi sebesar 0,93% (mtm) dan inflasi sebesar 5,03% (yoy). Sementara di tingkat eceran, deflasi tercatat sebesar 0,59% (mtm) dan inflasi sebesar 3,72% (yoy).
Pudji menekankan bahwa data harga beras yang disampaikan BPS merupakan rata-rata dari berbagai jenis kualitas beras dan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Hal ini penting untuk diperhatikan agar tidak terjadi interpretasi yang keliru terhadap kondisi pasar beras secara keseluruhan.
Penurunan harga beras ini tentu menjadi perhatian bagi para pelaku industri, terutama petani. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kesejahteraan petani tetap terjamin. Apakah penurunan ini akan berlanjut? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar