55 NEWS – Bencana banjir bandang yang melanda Pidie Jaya, Aceh, telah meninggalkan jejak kerusakan parah, terutama pada infrastruktur akses. Proses evakuasi dan distribusi bantuan kemanusiaan menghadapi rintangan luar biasa, di mana relawan harus menempuh perjalanan kaki hingga 45 menit melalui medan berlumpur pekat dan jembatan yang terputus, hanya untuk mencapai titik-titik terdampak paling kritis.

Related Post
Vovo Kristanto, seorang relawan sekaligus Aviation Security Chief di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, membeberkan pengalaman pahitnya di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa di fase awal penanganan bencana, kondisi medan sangat ekstrem dan tidak memungkinkan kendaraan untuk melintas. "Kami terpaksa berjalan kaki selama 45 menit, menembus rintangan alam, demi mencapai lokasi posko dan mendistribusikan logistik primer yang sangat vital bagi para korban," tutur Vovo kepada 55tv.co.id, Minggu (21/12/2025).

Lebih lanjut, Vovo menjelaskan bahwa Desa Dayah Husen menjadi titik fokus awal evakuasi. "Situasi di sana sangat memprihatinkan. Akses jalan hancur lebur oleh lumpur, jembatan-jembatan vital terputus, dan koneksi internet yang minim semakin mempersulit koordinasi distribusi. Perjalanan dari jalan utama ke desa tersebut memakan waktu sekitar 45 menit dengan berjalan kaki," jelasnya. Prioritas utama pada fase genting ini adalah memastikan pasokan logistik paling mendesak sampai ke tangan korban, diiringi dengan upaya pendataan akurat agar penyaluran bantuan selanjutnya bisa lebih efektif dan tepat sasaran.
Tak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, Holding BUMN juga menginisiasi program Layanan Dukungan Psikososial (LDP) atau trauma healing, khususnya bagi anak-anak yang menjadi korban. Kondisi ruang bermain dan belajar mereka yang porak-poranda akibat banjir menjadi perhatian serius untuk mengembalikan keceriaan dan semangat mereka. Selain itu, posko kesehatan juga didirikan, berkolaborasi dengan tenaga medis profesional, untuk memberikan pelayanan kesehatan darurat.
Laporan dari tim medis di lapangan menunjukkan bahwa keluhan terbanyak yang dialami para pengungsi adalah infeksi saluran pernapasan, serta infeksi kulit dan jamur, yang seringkali muncul di tengah kondisi sanitasi yang kurang memadai pasca-bencana.
Vovo menegaskan bahwa pendekatan penanganan bencana tidak bisa hanya terpaku pada logistik semata. "Fokus kami meluas hingga ke aspek pemulihan psikologis anak-anak dan penyediaan layanan kesehatan. Ini bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan kajian kebencanaan yang telah kami lakukan berulang kali. Menjaga tumbuh kembang dan kesehatan mental anak-anak, terutama mereka yang terdampak bencana, adalah investasi jangka panjang yang krusial," pungkas Vovo.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar