55 NEWS – Kebijakan pemerintah untuk meniadakan impor beras industri dan beras khusus dalam Neraca Komoditas (NK) tahun 2026 mendatang telah memicu kekhawatiran serius dari kalangan ekonom. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) secara tegas menilai langkah ini berpotensi besar menciptakan hambatan baru yang signifikan di sektor pangan nasional, dengan ancaman lonjakan harga produk olahan berbasis beras yang tak terhindarkan.

Related Post
Menurut Hasran, Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS, keputusan strategis ini berisiko mengganggu stabilitas industri pangan secara fundamental. Ia menyoroti akurasi data produksi domestik yang belum sepenuhnya terjamin, sebuah faktor krusial yang pada akhirnya dapat memicu spiral kenaikan harga pada produk pangan olahan yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

"Kebutuhan beras untuk sektor industri pengolahan memiliki spesifikasi dan karakteristik yang fundamental berbeda dibandingkan dengan beras konsumsi yang diproduksi oleh petani lokal," jelas Hasran dalam keterangan resminya yang diterima 55tv.co.id pada Minggu (28/12/2025).
Hasran menambahkan, "Menutup keran impor tanpa adanya jaminan pasokan domestik yang tidak hanya memadai tetapi juga sesuai dengan standar kualitas industri, hanya akan menciptakan gelombang ketidakpastian yang merugikan bagi para pelaku usaha."
Akses yang terbatas terhadap beras industri dengan kualifikasi tertentu diperkirakan akan meningkatkan beban biaya produksi secara signifikan. Jika tekanan biaya ini terus berlanjut, masyarakat sebagai konsumen akhir yang akan menanggung dampaknya, dengan ancaman kenaikan harga produk olahan berbasis beras yang tak terhindarkan pada tahun depan.
Lebih lanjut, riset mendalam yang dilakukan CIPS secara konsisten menunjukkan bahwa sistem Neraca Komoditas kerap kali gagal dalam menyajikan data yang rinci dan tersegmentasi dengan baik, sebuah kelemahan yang memperparah potensi risiko dari kebijakan ini. Oleh karena itu, CIPS mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan ini dengan mempertimbangkan data yang lebih akurat dan jaminan pasokan yang berkelanjutan demi menjaga stabilitas harga pangan dan iklim investasi di sektor industri.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar