Revolusi Keuangan Milenial dan Gen Z: Mengapa Berani ‘Miskin’ di Depan Umum Justru Kunci Menuju Kemandirian Finansial? Terkuak Strategi Loud Budgeting yang Mengguncang Budaya Konsumtif!

Revolusi Keuangan Milenial dan Gen Z: Mengapa Berani 'Miskin' di Depan Umum Justru Kunci Menuju Kemandirian Finansial? Terkuak Strategi Loud Budgeting yang Mengguncang Budaya Konsumtif!

55 NEWS – Jakarta – Di tengah arus deras budaya konsumerisme yang kian menguat dan maraknya tren ‘flexing’ di platform digital, sebuah fenomena keuangan baru bernama Loud Budgeting mulai mencuri perhatian. Berawal dari viralnya di TikTok, strategi ini dengan cepat bertransformasi menjadi panduan finansial esensial, khususnya bagi generasi Milenial dan Gen Z yang tengah berjuang membangun fondasi ekonomi mereka.

COLLABMEDIANET

Berbeda jauh dari praktik penghematan konvensional yang kerap diselimuti rasa malu atau dilakukan secara diam-diam, Loud Budgeting justru mengedepankan keterbukaan dan kebanggaan. Intinya, ini adalah deklarasi publik mengenai prioritas keuangan seseorang, menegaskan komitmen untuk mengalokasikan dana demi tujuan jangka panjang yang lebih krusial, ketimbang terjebak dalam pengeluaran impulsif atau sekadar mengikuti tren sesaat.

Revolusi Keuangan Milenial dan Gen Z: Mengapa Berani 'Miskin' di Depan Umum Justru Kunci Menuju Kemandirian Finansial? Terkuak Strategi Loud Budgeting yang Mengguncang Budaya Konsumtif!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Fenomena ini sejatinya merupakan respons strategis terhadap tekanan sosial yang masif dan sindrom Fear of Missing Out (FOMO) yang kerap menghantui. Ini adalah cara cerdas untuk melindungi diri dari godaan konsumtif. Ambil contoh Aji (28), seorang karyawan BUMN yang secara transparan mengutarakan ambisinya untuk mengumpulkan dana demi kepemilikan rumah impiannya.

Aji mengakui, di masa lalu ia sering merasa canggung atau tidak enak hati ketika harus menolak ajakan teman-teman untuk berkumpul di tempat mahal, dengan alasan klise ‘tidak ada uang’.

Namun, berkat adopsi Loud Budgeting, Aji kini lebih percaya diri dalam menolak ajakan yang tidak sesuai dengan prioritas keuangannya. Ia berani menyatakan, "Maaf, saya tidak bisa bergabung ke kafe malam minggu ini, karena sedang fokus menabung emas untuk uang muka rumah." Hasilnya, dalam kurun waktu satu bulan, ia berhasil menghemat dan mengumpulkan emas lebih dari satu gram. "Ini sungguh melegakan. Dan yang menarik, ketika kita berani jujur, orang-orang di sekitar pun mulai terinspirasi untuk menerapkan Loud Budgeting," ungkap Aji, seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Kisah Aji merefleksikan esensi Loud Budgeting: bukan sekadar berhemat, melainkan sebuah pernyataan sikap finansial yang proaktif dan transparan. Ini adalah langkah revolusioner dalam membangun literasi keuangan, mengubah persepsi negatif tentang penghematan menjadi sebuah kebanggaan, dan pada akhirnya, mempercepat pencapaian tujuan finansial jangka panjang di tengah tantangan ekonomi modern.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar