55 NEWS – Dunia investasi dan industri nasional kembali dihebohkan dengan kabar ambisius dari CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani. Ia mengungkapkan bahwa enam proyek hilirisasi strategis dengan total nilai investasi fantastis mencapai USD6 miliar, atau setara dengan Rp101 triliun, siap untuk diresmikan pada Februari 2026. Proyek-proyek raksasa ini digadang-gadang akan menjadi motor penggerak baru bagi perekonomian Indonesia, menciptakan nilai tambah signifikan dari sumber daya alam domestik.

Related Post
Dalam sebuah keterangan yang disampaikan di Menara Global pada Rabu (14/1/2026), Rosan merinci daftar proyek-proyek vital yang akan menjadi tonggak baru bagi perekonomian Indonesia. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan industri smelter aluminium dari alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, serta fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) yang juga berasal dari bauksit di lokasi yang sama. Langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral domestik dan menguatkan rantai pasok industri hilir.

Tak hanya itu, sektor energi hijau juga menjadi fokus utama dengan hadirnya fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, dan pengembangan fasilitas bioetanol. Ini menunjukkan komitmen kuat terhadap transisi energi dan kemandirian bahan bakar nasional, sejalan dengan agenda keberlanjutan global.
Sektor pangan dan pertanian pun tak luput dari perhatian. Akan diresmikan pula fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, yang diproyeksikan mampu meningkatkan daya saing produk olahan kelapa Indonesia di pasar global. Selain itu, lima fasilitas budidaya unggas yang tersebar di 12 titik lokasi juga akan diresmikan. Inisiatif ini diproyeksikan mampu memperkuat ketahanan pangan dan menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah, sekaligus menstabilkan pasokan protein hewani.
Lebih lanjut, Rosan juga mengisyaratkan potensi peresmian proyek gasifikasi batu bara atau Dimethyl Ether (DME). Proyek ini, jika terealisasi, akan menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada LPG dan mengoptimalkan pemanfaatan cadangan batu bara. "Teknologinya sedang dianalisis secara mendalam oleh Chief Technology Officer kami, Bapak Sigit," jelas Rosan, menegaskan bahwa aspek teknologi dan efisiensi menjadi prioritas utama dalam setiap pengembangan proyek Danantara Indonesia.
Kehadiran enam, bahkan mungkin tujuh, proyek hilirisasi raksasa ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing global. Investor dan pelaku pasar tentu akan memantau ketat progres peresmian yang dijadwalkan pada awal 2026 ini, sebagai indikator positif bagi iklim investasi di Tanah Air, sebagaimana dilaporkan oleh 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar