Investasi Rp1.931 Triliun Membumbung Tinggi, Namun Jeritan Buruh Tak Kunjung Reda: Apakah Ekonomi Kita Pincang?

Investasi Rp1.931 Triliun Membumbung Tinggi, Namun Jeritan Buruh Tak Kunjung Reda: Apakah Ekonomi Kita Pincang?

55 NEWS – JAKARTA – Data terbaru menunjukkan realisasi investasi nasional sepanjang tahun 2025 berhasil mencapai angka fantastis, menembus Rp1.931 triliun. Capaian ini, yang seharusnya menjadi indikator positif bagi geliat perekonomian tanah air, justru memicu sorotan tajam dari kalangan buruh. Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi) secara tegas menyatakan bahwa lonjakan investasi yang masif ini belum sepenuhnya selaras dengan peningkatan kesejahteraan serta perlindungan hak-hak fundamental para pekerja.

COLLABMEDIANET

Mirah Sumirat, Ketua Umum Aspirasi, mengakui bahwa gelontoran investasi yang signifikan memang mengirimkan sinyal optimisme, khususnya dalam upaya menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas ekonomi di tengah gejolak global yang penuh ketidakpastian. Namun, ia menekankan bahwa besaran nilai investasi yang tercatat belum mampu diterjemahkan secara konkret menjadi jaminan perlindungan dan peningkatan taraf hidup bagi kaum buruh.

Investasi Rp1.931 Triliun Membumbung Tinggi, Namun Jeritan Buruh Tak Kunjung Reda: Apakah Ekonomi Kita Pincang?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

“Angka investasi yang membengkak ini belum serta-merta mencerminkan peningkatan jaminan keamanan kerja dan kesejahteraan yang layak bagi pekerja,” tegas Mirah dalam wawancara eksklusif dengan 55tv.co.id pada Jumat (16/1/2026).

Mirah secara khusus menyoroti fenomena kontradiktif di mana ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal masih menjadi momok yang menghantui buruh di berbagai sektor industri, bahkan di tengah derasnya arus investasi yang terus mengalir. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas dan orientasi investasi yang masuk ke Indonesia.

Menurut analisisnya, kondisi paradoks ini mengindikasikan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia belum sepenuhnya memenuhi kriteria investasi berkualitas. Investasi tersebut, lanjut Mirah, belum secara optimal berorientasi pada penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan dan perlindungan komprehensif terhadap hak-hak pekerja, melainkan lebih cenderung pada aspek-aspek lain yang kurang berdampak langsung pada kesejahteraan buruh. Kritik ini menggarisbawahi urgensi bagi pemerintah dan pelaku industri untuk mengevaluasi kembali strategi investasi agar benar-benar memberikan manfaat yang merata bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya para pekerja.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar