55 NEWS – Kabar gembira datang dari sektor industri pengolahan Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja lapangan usaha (LU) strategis ini menunjukkan peningkatan signifikan, memasuki fase ekspansi yang solid pada kuartal IV 2025. Indeks Manajer Pembelian (PMI-BI) tercatat sebesar 51,86 persen, mengungguli capaian kuartal sebelumnya yang berada di angka 51,66 persen. Angka di atas 50 persen ini menjadi sinyal kuat pertumbuhan dan optimisme di kalangan pelaku usaha.

Related Post
Lonjakan positif ini, menurut analisis BI, didorong oleh ekspansi yang merata pada mayoritas komponen pembentuk PMI-BI. Faktor-faktor kunci meliputi peningkatan Volume Produksi, bertambahnya Volume Persediaan Barang Jadi, serta pertumbuhan substansial pada Volume Total Pesanan. Ini mengindikasikan aktivitas ekonomi yang menggeliat dari sisi permintaan maupun penawaran, menunjukkan daya tahan dan adaptasi industri di tengah dinamika global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya kepada 55tv.co.id pada Senin (19/1/2026), menjelaskan bahwa tren ekspansi ini juga terlihat pada sebagian besar Sub-lapangan Usaha (Sub-LU). "Indeks tertinggi tercatat pada Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman, Industri Barang Galian Bukan Logam, serta Industri Makanan dan Minuman," ujar Ramdan, menyoroti sektor-sektor yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.
Perkembangan menggembirakan ini turut dikonfirmasi oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia. SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan LU Industri Pengolahan tetap solid, tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,18 persen, memperkuat sinyal pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menatap ke depan, prospek industri pengolahan pada kuartal I 2026 diproyeksikan akan semakin cerah. BI memprediksi kinerja LU Industri Pengolahan akan terus menanjak dan mempertahankan fase ekspansinya, dengan PMI-BI yang diperkirakan mencapai 53,17 persen. Angka ini menjadi indikator kuat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi di awal tahun, sekaligus harapan akan kontribusi yang lebih besar dari sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar