55 NEWS – Transformasi fundamental tengah melanda lanskap industri teknologi global. Penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) kini bukan sekadar tren, melainkan telah berevolusi menjadi standar evaluasi krusial. Tuntutan pasar internasional akan transparansi dan keberlanjutan telah mendorong ESG sebagai tolok ukur utama bagi setiap entitas teknologi, menandai pergeseran signifikan dalam cara perusahaan dinilai dan dipercaya.

Related Post
Amon Fernandes, Managing Director Global Infotech Solution, menegaskan bahwa era di mana ESG dianggap sebagai nilai tambah telah berakhir. "ESG kini bukan lagi sekadar diferensiasi kompetitif, melainkan sebuah prasyarat mutlak untuk bisa bertahan dan memperoleh kepercayaan di kancah industri teknologi," ujarnya pada Selasa (3/2/2026). Ia menambahkan, penilaian keberlanjutan menjadi instrumen vital untuk memastikan bahwa laju pertumbuhan bisnis selaras dengan tanggung jawab korporasi terhadap ekosistem dan masyarakat luas.

Kerangka penilaian ESG yang menjadi fokus utama bagi sektor teknologi mencakup beberapa pilar esensial. Pertama, aspek lingkungan, yang meliputi kebijakan mitigasi dampak ekologis dan efisiensi sumber daya. Kedua, dimensi ketenagakerjaan dan hak asasi manusia, menekankan praktik kerja yang adil dan inklusif. Ketiga, etika bisnis, yang menuntut integritas dan transparansi dalam setiap operasional. Terakhir, pengadaan berkelanjutan, memastikan rantai pasok yang bertanggung jawab dari hulu ke hilir. Konsistensi perusahaan dalam mengimplementasikan pilar-pilar ini menjadi cerminan tata kelola dan praktik operasional yang selaras dengan standar global.
Menyadari imperatif global ini, perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia pun menunjukkan respons proaktif. Mereka memperkuat komitmen keberlanjutan melalui beragam inisiatif strategis yang melibatkan lintas organisasi. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan adopsi kendaraan listrik oleh jajaran direksi sebagai upaya mengurangi jejak karbon, implementasi prinsip Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, serta program pelestarian lingkungan seperti penanaman mangrove. Selain itu, fokus juga diberikan pada pengelolaan dan daur ulang limbah operasional, serta dukungan berkelanjutan terhadap pengembangan pendidikan di bidang teknologi informatika, menegaskan peran mereka dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan beretika.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar