Geger Bursa Awal 2026: Rp11 Triliun Saham Dilepas Investor Asing, Sinyal Bahaya atau Justru Peluang Tersembunyi di Tengah Gejolak Ekonomi?

Geger Bursa Awal 2026: Rp11 Triliun Saham Dilepas Investor Asing, Sinyal Bahaya atau Justru Peluang Tersembunyi di Tengah Gejolak Ekonomi?

55 NEWS – Pasar saham domestik Indonesia kembali diwarnai dinamika signifikan di awal Februari 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, investor asing secara kompak membukukan aksi jual bersih (net sell) yang mencapai angka fantastis, mengindikasikan adanya pergeseran sentimen di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Fenomena ini memicu pertanyaan besar mengenai arah pasar modal Tanah Air ke depan.

COLLABMEDIANET

Hasan Fawzi, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia pada Senin (9/2/2026), mengungkapkan data yang cukup mencengangkan. Hingga pekan pertama Februari 2026, investor asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp1,14 triliun secara month to date (MTD). Angka ini bahkan melonjak drastis menjadi Rp11,02 triliun secara year to date (YTD) untuk tahun 2026.

Geger Bursa Awal 2026: Rp11 Triliun Saham Dilepas Investor Asing, Sinyal Bahaya atau Justru Peluang Tersembunyi di Tengah Gejolak Ekonomi?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Fenomena aksi jual bersih oleh investor asing ini perlu dicermati secara seksama, mengingat dampaknya terhadap pergerakan indeks. Meskipun demikian, kami melihat bahwa nilai perdagangan di pasar saham terpantau tetap sangat tinggi," ujar Hasan, seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Meskipun terjadi tekanan jual yang signifikan dari investor asing, likuiditas pasar saham Indonesia tetap menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Hasan menambahkan, rerata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar saham mencapai Rp32,88 triliun secara year to date. Angka ini mengindikasikan bahwa meskipun ada pihak yang melepas saham, aktivitas beli-jual di pasar tetap sangat aktif dan solid, menunjukkan kepercayaan investor domestik yang masih kuat.

Secara kinerja indeks, IHSG memang menunjukkan pelemahan yang cukup terasa. Pada penutupan pekan lalu, IHSG berada di level 7.935,26, terkoreksi 4,73 persen secara MTD dan turun 8,23 persen secara YTD. Penurunan ini sejalan dengan sentimen jual yang dominan dari investor global, yang mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal.

Namun, di tengah bayang-bayang aksi jual asing, industri pengelolaan investasi justru menunjukkan performa yang menjanjikan dan menjadi penyeimbang. OJK mencatat total aset kelolaan (asset under management/AUM) industri ini pada minggu pertama atau 5 Februari 2026 mencapai Rp1.089,64 triliun. Lebih lanjut, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana per 5 Februari 2026 tercatat sebesar Rp722,21 triliun, tumbuh positif 2,98 persen secara MTD dan meningkat signifikan 6,94 persen secara YTD.

"Perkembangan positif di sektor pengelolaan investasi ini menjadi indikator penting mengenai resiliensi pasar modal kita. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada gejolak di satu segmen, sektor lain tetap mampu menunjukkan pertumbuhan dan menjadi jangkar stabilitas," pungkas Hasan, memberikan perspektif yang lebih holistik terhadap kondisi pasar keuangan di awal tahun 2026.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar