55 NEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada angka pertumbuhan tinggi, melainkan mengedepankan pemerataan kesejahteraan dan keberpihakan pada masyarakat berpenghasilan rendah. Fokus utama pemerintah adalah memastikan setiap lapisan masyarakat, khususnya "wong cilik," dapat merasakan dampak positif dari pembangunan ekonomi.

Related Post
Dalam forum Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, pada Jumat (13/2/2026), Purbaya secara lugas menyatakan, "Pro pertumbuhan dan pro rakyat. Pokoknya kami maunya wong cilik iso gemuyu (orang kecil bisa tertawa)." Pernyataan ini, seperti dilansir 55tv.co.id, menggarisbawahi filosofi kebijakan yang menempatkan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat sebagai tolok ukur utama keberhasilan ekonomi.

Purbaya menjelaskan, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara konsisten menunjukkan komitmen negara terhadap rakyatnya. Meskipun langkah ini membawa konsekuensi fiskal dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan, ia menegaskan bahwa setiap kebijakan fiskal yang diambil pemerintah telah melalui perhitungan yang matang dan cermat.
Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa APBN difungsikan sebagai katalisator sekaligus instrumen kontra-siklikal yang vital. Fungsinya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui program perlindungan sosial yang terarah dan dukungan bagi sektor usaha. "Kami sedikit mengorbankan fiskal di sisi defisit, dari sekitar 2,5 persen ke arah 2,9 persen. Ini merupakan program kontra-siklikal yang kami kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun, sekarang mulai naik," paparnya. Peningkatan defisit ini, menurutnya, adalah investasi strategis untuk memulihkan dan mengakselerasi roda perekonomian.
Untuk menjaga kepentingan rakyat secara menyeluruh dan memastikan efektivitas kebijakan, Purbaya menekankan pentingnya kerangka kebijakan yang melibatkan sinergi lintas lembaga. Khususnya, koordinasi erat antara pemangku kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci dalam menciptakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar