55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara tegas menyatakan bahwa kemandirian energi nasional bukan lagi sekadar retorika atau kewajiban administratif, melainkan sebuah keharusan strategis yang mendesak. Dalam langkah ambisiusnya, pemerintah berencana membuka tender untuk 110 blok minyak dan gas (migas) baru, sebuah inisiatif krusial untuk memangkas ketergantungan impor yang selama ini membebani neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi bangsa.

Related Post
Bahlil menekankan, visi swasembada energi adalah sebuah misi kolosal yang menuntut lebih dari sekadar perencanaan. Ia menyerukan keberanian untuk melakukan terobosan radikal, eksekusi yang tangkas, pemanfaatan teknologi mutakhir, serta sinergi yang kokoh antara pemerintah dan pelaku industri swasta. Tanpa elemen-elemen ini, impian kemandirian energi akan tetap menjadi angan-angan belaka.

Dalam Sidang Pleno XVIII Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (15/2/2026), Bahlil melontarkan peringatan keras. "Jangan pernah bermimpi menjadi swasembada energi jika tidak melakukan terobosan. Para importir justru mendapat manfaat dari ketidakmampuan kita mendorong swasembada," ujarnya di hadapan para pengusaha, menggarisbawahi urgensi perubahan paradigma yang fundamental.
Ia menegaskan, upaya melepaskan diri dari belenggu ketergantungan impor bukan sekadar wacana, melainkan memerlukan inovasi teknologi yang berkelanjutan dan keseriusan eksekusi yang tak tergoyahkan. Bahlil mengingatkan, terus-menerus mengandalkan pasokan energi dari luar negeri sama dengan secara sengaja membuka pintu bagi pihak lain untuk meraup keuntungan dari celah kelemahan dan kelalaian bangsa ini.
Lebih lanjut, Bahlil membedah tantangan fundamental yang dihadapi sektor hulu migas, yakni kondisi sumur minyak bumi yang mayoritas telah uzur. Fenomena ini secara signifikan menghambat kapasitas produksi atau lifting migas nasional. Dari estimasi 39.000 hingga 40.000 sumur yang ada, hanya sekitar 17.000 hingga 18.000 sumur yang masih beroperasi secara aktif. Sisanya, menurut Bahlil, "idle karena sudah tua," sebuah kondisi yang menuntut intervensi teknologi mutlak untuk merevitalisasi potensi yang terpendam.
Oleh karena itu, Bahlil menegaskan, "Sumur-sumur tua ini mau tidak mau harus kita intervensi lewat teknologi. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang harus segera kita tangani untuk mengoptimalkan kembali produksi migas nasional," pungkasnya, mengisyaratkan komitmen pemerintah untuk tidak lagi menunda upaya strategis ini, demi masa depan energi Indonesia yang lebih mandiri dan berdaulat, seperti dilaporkan 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar