Alarm Ekonomi Global Berbunyi Nyaring! Gejolak Timur Tengah Dorong Harga Minyak Dunia ke Puncak USD100, Siapkah Dompet Anda Hadapi Lonjakan Harga BBM yang Tak Terhindarkan?

Alarm Ekonomi Global Berbunyi Nyaring! Gejolak Timur Tengah Dorong Harga Minyak Dunia ke Puncak USD100, Siapkah Dompet Anda Hadapi Lonjakan Harga BBM yang Tak Terhindarkan?

55 NEWS – Jakarta – Kekhawatiran akan lonjakan harga minyak mentah global kembali mencuat seiring memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebuah jalur maritim krusial, berpotensi besar memicu kenaikan harga minyak hingga menembus level psikologis USD100 per barel, yang secara langsung dapat berdampak pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

COLLABMEDIANET

Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa; ia adalah arteri vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang diperdagangkan setiap hari. Jika akses melalui selat strategis ini terganggu atau bahkan ditutup, implikasinya terhadap distribusi energi global akan sangat masif, memicu kepanikan pasar dan lonjakan harga yang tak terhindarkan akibat gangguan pasokan.

Alarm Ekonomi Global Berbunyi Nyaring! Gejolak Timur Tengah Dorong Harga Minyak Dunia ke Puncak USD100, Siapkah Dompet Anda Hadapi Lonjakan Harga BBM yang Tak Terhindarkan?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Saat ini, harga minyak dunia bergerak di kisaran USD70 per barel. Namun, skenario terburuk menunjukkan potensi kenaikan signifikan. Jika konflik terus bereskalasi tanpa gangguan langsung pada Selat Hormuz, harga bisa merangkak naik ke USD80 per barel. Namun, apabila ancaman penutupan Selat Hormuz benar-benar terealisasi dan mengganggu arus pasokan, para analis memprediksi harga minyak dapat melonjak tajam, melampaui USD100 per barel.

Ekonom dan Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyoroti bahwa level USD100 per barel merupakan ‘zona tinggi’ yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. "Ini adalah rekor. Terakhir kali kita menyaksikan kenaikan setinggi itu adalah pada awal pecahnya perang Rusia-Ukraina," ujar Faisal, seperti dilansir 55tv.co.id, baru-baru ini. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi situasi dan potensi dampak ekonomi yang serius.

Lonjakan harga minyak hingga USD100 per barel tentu akan memberikan tekanan berat bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Pemerintah berpotensi menghadapi dilema besar terkait kebijakan subsidi BBM. Jika harga BBM di dalam negeri tidak disesuaikan, beban subsidi akan membengkak signifikan, menguras anggaran negara. Sebaliknya, jika harga BBM dinaikkan, daya beli masyarakat akan tergerus, memicu inflasi dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan dinamika geopolitik yang kian tidak menentu, pasar energi global berada dalam kondisi siaga tinggi. Potensi kenaikan harga minyak hingga level rekor menjadi peringatan serius bagi para pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi untuk mempersiapkan strategi mitigasi demi menjaga stabilitas ekonomi di tengah badai ketidakpastian.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar