Alarm Merah Pasar Keuangan! Rupiah Jebol Rp17.000, IHSG Terjun Bebas 5%: Sinyal Krisis Baru?

Alarm Merah Pasar Keuangan! Rupiah Jebol Rp17.000, IHSG Terjun Bebas 5%: Sinyal Krisis Baru?

55 NEWS – Pasar keuangan Indonesia dikejutkan dengan pelemahan signifikan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (9/3/2026). Rupiah terperosok melewati level psikologis krusial Rp17.000 per dolar AS, sementara IHSG mencatat koreksi tajam lebih dari 5 persen, memicu kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda ditutup melemah 76 poin atau setara 0,45 persen, mengakhiri perdagangan di level Rp17.001 per dolar AS. Angka ini menandai penurunan drastis dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp16.925 per dolar AS, menembus batas krusial yang kerap menjadi indikator sentimen negatif di pasar valuta asing.

Alarm Merah Pasar Keuangan! Rupiah Jebol Rp17.000, IHSG Terjun Bebas 5%: Sinyal Krisis Baru?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Senada dengan Rupiah, kinerja IHSG juga menunjukkan sinyal merah yang mendalam. Setelah dibuka dengan koreksi mendekati 3 persen, indeks saham acuan ini terus tertekan hingga pukul 09.22 WIB, anjlok 5,55 persen ke posisi 7.162. Penurunan masif ini mencerminkan sentimen jual yang meluas dan kepanikan yang masif di bursa saham domestik.

Aktivitas transaksi pada awal perdagangan mencatat volume saham yang sangat tinggi, mencapai 8,318 miliar lembar dengan total nilai transaksi sekitar Rp3,883 triliun dari 377.501 kali transaksi. Namun, dominasi tekanan jual terlihat jelas, di mana hanya 34 saham yang berhasil menguat, sementara 628 saham terperosok dalam zona merah, dan 55 saham lainnya stagnan. Ini mengindikasikan bahwa mayoritas emiten mengalami tekanan berat.

Koreksi IHSG tidak pandang bulu, menyeret seluruh sektor ke zona merah. Sektor barang baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan tajam 8,55 persen. Disusul oleh sektor infrastruktur yang ambles 7,55 persen, dan sektor non-primer yang terkoreksi 6,72 persen. Sektor energi juga tak luput dari tekanan, merosot 6,05 persen, sementara sektor perindustrian mencatat pelemahan 5,04 persen.

Lebih lanjut, sektor properti dan transportasi masing-masing anjlok 4,92 persen dan 4,88 persen. Sektor primer turun 4,56 persen, dan teknologi terkoreksi 3,51 persen. Bahkan sektor yang dianggap lebih defensif seperti kesehatan dan keuangan pun tak mampu menahan tekanan, masing-masing turun 2,85 persen dan 2,19 persen, meskipun sektor keuangan menjadi yang paling minim pelemahannya. Situasi ini menggarisbawahi luasnya dampak sentimen negatif yang melanda pasar modal Indonesia.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar