55 NEWS – Jakarta – Pasar keuangan Indonesia diguncang hebat pada awal pekan ini. Nilai tukar Rupiah terdepresiasi signifikan, menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bersamaan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hampir 3 persen pada sesi pembukaan perdagangan. Gejolak ini dipicu oleh konvergensi sentimen eksternal yang memanas di kawasan Timur Tengah, berpadu dengan kekhawatiran fiskal domestik yang membayangi.

Related Post
Menyikapi eskalasi global ini, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bahkan telah mengeluarkan perintah Siaga Tingkat 1 kepada seluruh jajarannya. Langkah ini diambil sebagai antisipasi dini terhadap potensi dampak dan perkembangan situasi di dalam negeri yang bisa timbul akibat gejolak di Timur Tengah.

Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang dan komoditas terkemuka, pemicu utama kegaduhan pasar adalah kabar terpilihnya Mojtaba Khameini sebagai pemimpin tertinggi Iran, menggantikan Ayatullah Khameini. Ibrahim menyoroti karakter Mojtaba yang dianggap fundamentalis, memprediksi hal ini akan memperparah dan memperpanjang eskalasi konflik di kawasan tersebut. Kekhawatiran ini diperparah oleh pernyataan keras dari mantan Presiden AS, Donald Trump.
Trump, dalam pernyataannya, secara eksplisit mengancam akan "memusnahkan" atau "mengganti rezim" yang berkuasa di Iran. "Ancaman ini secara langsung memicu lonjakan ketegangan di Timur Tengah, dengan potensi serius penutupan Selat Hormuz," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulisnya kepada 55tv.co.id pada Senin (9/3/2026). Ia menambahkan, "Banyak analis memproyeksikan bahwa harga minyak mentah global bisa melonjak drastis hingga mencapai level USD200 per barel jika krisis di Timur Tengah tidak menemukan titik terang dalam kurun waktu satu bulan ke depan."
Dengan harga minyak mentah yang saat ini sudah bertengger di kisaran USD117 per barel, ancaman penutupan Selat Hormuz dan gangguan pasokan energi global dikhawatirkan akan memicu krisis ekonomi berskala global yang memiliki kemiripan dengan resesi dahsyat tahun 2008. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pembuat kebijakan dan pelaku pasar di seluruh dunia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar