55 NEWS – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara tegas membantah spekulasi yang beredar luas di masyarakat mengenai penghentian total operasional penerbangan internasional. Isu tersebut mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya pasca-konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari lalu, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku ekonomi dan pariwisata.

Related Post
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dalam keterangannya di Jakarta pada Rabu (18/3/2026), menegaskan bahwa informasi mengenai penghentian seluruh penerbangan internasional akibat dinamika di Timur Tengah adalah "tidak benar". "Kami ingin meluruskan pemberitaan yang menyesatkan tersebut. Operasional penerbangan internasional tetap berjalan, meskipun dengan kewaspadaan tinggi," ujar Lukman, menenangkan kekhawatiran publik dan pelaku industri yang bergantung pada konektivitas udara.

Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, sebagai regulator utama, terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan operasional penerbangan internasional. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran arus penumpang dan barang, serta menjaga stabilitas konektivitas udara di tengah gejolak global. Koordinasi erat dengan berbagai pihak terkait, baik domestik maupun internasional, juga terus diperkuat demi menjamin keamanan dan kenyamanan perjalanan udara.
Data terkini per 17 Maret 2026 pukul 10.30 WIB menunjukkan, hanya dua pesawat yang masih berstatus stranded di wilayah Indonesia. Kedua pesawat tersebut, milik Qatar Airways, masing-masing berada di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, dan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Situasi ini relatif terkendali mengingat skala isu yang beredar.
Kabar baiknya, wilayah udara Uni Emirat Arab (UEA) telah mulai dibuka kembali, memungkinkan beberapa maskapai untuk melanjutkan operasional secara terbatas. Maskapai Emirates, misalnya, telah kembali melayani rute terbatas dari dan menuju Jakarta serta Denpasar. Meskipun demikian, operasional sempat menghadapi kendala akibat gangguan pada fasilitas fuel farm di Bandar Udara Dubai pada 16 Maret 2026, yang berujung pada keterlambatan dan penyesuaian jadwal. Pihak maskapai dan otoritas bandara terus berupaya keras dalam penanganan penumpang yang terdampak, termasuk memfasilitasi keberangkatan penumpang stranded secara bertahap, guna meminimalisir kerugian dan ketidaknyamanan bagi para pelancong dan sektor logistik.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar