Terkuak! Harga Bensin Singapura Tembus Langit, Benarkah Konflik Global Jadi Dalang Utama? Siap-siap Hadapi Dampak Ekonomi yang Tak Terduga!

Terkuak! Harga Bensin Singapura Tembus Langit, Benarkah Konflik Global Jadi Dalang Utama? Siap-siap Hadapi Dampak Ekonomi yang Tak Terduga!

55 NEWS – Singapura kembali menjadi sorotan ekonomi global dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan drastis ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan langsung dari ketegangan geopolitik internasional yang mengganggu rantai pasok energi dunia, memicu kekhawatiran akan dampak inflasi yang lebih luas.

COLLABMEDIANET

Saat ini, konsumen di Negeri Singa harus merogoh kocek dalam-dalam. Bensin dengan oktan RON 95 dibanderol sekitar USD2,35 per liter, setara dengan hampir Rp39.869 jika mengacu kurs Rp16.968. Sementara itu, varian RON 98 bahkan menyentuh angka USD2,65 per liter. Angka ini menempatkan Singapura sebagai salah satu negara dengan harga BBM termahal di dunia, sebuah anomali yang menarik perhatian para analis ekonomi.

Terkuak! Harga Bensin Singapura Tembus Langit, Benarkah Konflik Global Jadi Dalang Utama? Siap-siap Hadapi Dampak Ekonomi yang Tak Terduga!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pakar ekonomi dari UOB Kay Hian, Kenneth Goh, menegaskan bahwa akar permasalahan utamanya adalah gejolak harga minyak mentah global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian masif. "Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari atau lebih dari seperempat total perdagangan minyak maritim global, kini berada di bawah ancaman gangguan serius," jelas Goh, seperti dikutip dari 55tv.co.id. Terganggunya jalur strategis ini secara langsung memangkas pasokan dan memicu kenaikan harga minyak di pasar internasional.

Sebelum konflik memanas, harga minyak mentah dunia berada di kisaran USD69 per barel. Namun, situasi terkini telah mendorongnya melonjak hingga menembus USD100 per barel. Meskipun ada proyeksi penurunan menuju USD82 per barel pada akhir tahun dan sekitar USD70 per barel pada awal 2027, volatilitas pasar tetap menjadi kekhawatiran utama para pelaku ekonomi. Proyeksi ini mengindikasikan bahwa tekanan harga masih akan membayangi, setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah.

Dampak dari meroketnya harga BBM ini terasa di seluruh sendi perekonomian Singapura. Sektor transportasi, baik darat, laut, maupun udara, menghadapi peningkatan biaya operasional yang signifikan. Hal ini berpotensi memicu inflasi lebih lanjut dan membebani daya beli masyarakat, serta mengancam profitabilitas bisnis yang sangat bergantung pada logistik dan mobilitas. Pemerintah Singapura dihadapkan pada tantangan serius untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah badai geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar