55 NEWS – Jakarta – Pasar komoditas global kembali diwarnai sentimen negatif terhadap harga emas. Logam mulia ini menutup pekan perdagangan dengan pelemahan signifikan, tertekan oleh dominasi penguatan dolar Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Pada Sabtu pagi, harga emas global tercatat di angka USD 4.497,37 per troy ons, menunjukkan koreksi substansial dari sesi sebelumnya. Imbasnya, harga emas di pasar domestik juga tak luput dari tekanan, ditutup di kisaran Rp2.893.000 per gram.

Related Post
Merespons dinamika pasar ini, analis keuangan terkemuka, Ibrahim Assuaibi, memperingatkan bahwa tren pelemahan harga emas berpotensi berlanjut pada pekan perdagangan mendatang. Ia memprediksi bahwa harga logam mulia akan cenderung bertahan di bawah level psikologis Rp3 juta per gram. "Ada probabilitas tinggi bahwa dalam minggu depan, harga emas akan bergerak di kisaran Rp2.890.000 per gram, tetap di bawah ambang batas Rp3 juta," jelas Ibrahim kepada 55tv.co.id.

Secara teknikal, Ibrahim memaparkan skenario jika tekanan jual terus mendominasi. Harga emas dunia diproyeksikan akan menguji level support krusial pertama di USD 4.423,06 per troy ons. Apabila momentum pelemahan semakin intens, level support berikutnya yang perlu dicermati berada di kisaran USD 4.319,00. Skenario terburuk ini dapat menyeret harga emas domestik lebih dalam, mencapai rentang Rp2.840.000 hingga Rp2.800.000 per gram.
Kendati demikian, Ibrahim tidak menutup kemungkinan adanya peluang pembalikan arah. Jika harga emas berhasil menembus level resistance pertama di USD 4.559,86 per troy ons, logam mulia berpotensi menguat menuju kisaran Rp2.920.000 per gram di pasar domestik. Apabila momentum kenaikan berlanjut dan menembus resistance kedua di USD 4.681,50, harga emas diperkirakan dapat mendekati Rp2.980.000 per gram. Namun, perlu dicatat bahwa skenario penguatan ini pun masih menempatkan harga emas di bawah ambang batas Rp3 juta.
Ibrahim lebih lanjut menguraikan bahwa tekanan signifikan terhadap harga emas saat ini bersumber dari pergeseran preferensi investor. Mereka cenderung beralih ke aset yang dinilai lebih aman dan menarik dalam jangka pendek, yakni dolar Amerika Serikat. Indeks dolar diproyeksikan akan melanjutkan penguatannya, bergerak menuju level 101,20 dari posisi support sebelumnya di kisaran 98,73. Kondisi ini secara fundamental akan terus memberikan beban berat bagi pergerakan harga emas di pasar global.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar