55 NEWS – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tampil ke publik untuk menepis kekhawatiran terkait kondisi industri perbankan nasional, khususnya kelompok bank BUMN atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), setelah lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch memangkas outlook mereka. OJK menegaskan bahwa sektor perbankan Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kokoh dan berada di jalur pertumbuhan yang positif, bahkan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

Related Post
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa keputusan revisi outlook negatif tersebut bukanlah cerminan dari penurunan kinerja internal perbankan. "Langkah ini lebih merupakan konsekuensi dari penyesuaian peringkat kredit sovereign Indonesia serta gejolak makroekonomi global yang sedang berlangsung," ujar Dian dalam pernyataan resminya yang diterima 55tv.co.id di Jakarta, Rabu (25/3/2026). Ia menekankan bahwa fundamental perbankan domestik tetap solid.

Menurut Dian, secara fundamental, industri perbankan nasional berada dalam kondisi yang sangat kondusif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit pada Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen secara tahunan (yoy), sejalan dengan kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,48 persen (yoy). Angka-angka ini mengindikasikan aktivitas ekonomi yang bergerak positif dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan yang terus menguat.
Yang menarik, lanjut Dian, di tengah tekanan eksternal, bank-bank kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 dan Himbara justru menunjukkan performa yang luar biasa impresif. Pertumbuhan kredit untuk KBMI 4 melonjak 13,34 persen, sementara Himbara tidak kalah gemilang dengan kenaikan 13,43 persen. Ini adalah pertumbuhan dua digit yang menandakan ekspansi bisnis yang agresif dan sehat, jauh dari kesan melambat.
Tidak hanya dari sisi kredit, DPK untuk KBMI 4 dan Himbara juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, masing-masing sebesar 16,32 persen dan 16,38 persen. "Angka-angka ini adalah bukti nyata kepercayaan publik yang tak tergoyahkan terhadap stabilitas dan prospek bank-bank besar di Indonesia, yang terus menjadi tulang punggung perekonomian," tegas Dian.
Lebih lanjut, rasio kecukupan modal (CAR) Himbara berada pada level 20,32 persen, dan KBMI 4 di angka 22,33 persen. Rasio CAR yang tinggi ini memberikan bantalan modal yang sangat kuat, memungkinkan bank-bank tersebut untuk menyerap potensi risiko dan mendukung ekspansi bisnis lebih lanjut tanpa mengorbankan stabilitas keuangan. Ini menunjukkan kesiapan perbankan nasional menghadapi berbagai skenario ekonomi ke depan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar