55 NEWS – Jakarta – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, mendesak Indonesia untuk segera mencari solusi strategis guna mengurangi ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) impor. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini, penguatan insentif kendaraan listrik (EV) dinilai menjadi langkah krusial dan mendesak. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pasaribu, dalam pernyataannya pada Minggu (29/3/2026).

Related Post
Joshua Pasaribu menyoroti bagaimana gangguan di kawasan tersebut secara langsung menjadikan jalur Selat Hormuz sebagai arteri vital yang kembali menjadi sangat krusial bagi pasar energi dunia. Data tahun 2024 menunjukkan, sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 20% dari total konsumsi minyak global, mengalir melalui selat strategis ini. Ancaman terhadap jalur ini berarti ancaman serius bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.

Dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah sudah mulai terasa. Pada Maret 2026, pasokan minyak global tercatat mengalami penurunan signifikan sekitar 8 juta barel per hari. Kondisi ini sontak memicu kenaikan harga minyak Brent yang per 27 Maret 2026 masih bertengger di kisaran 108 dolar AS per barel, menciptakan tekanan ekonomi yang tidak ringan bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia secara langsung membebani anggaran negara dan berpotensi memicu inflasi domestik.
Menghadapi ancaman ini, Joshua Pasaribu menekankan bahwa Indonesia tidak bisa lagi menunda upaya diversifikasi energi. Ia mencontohkan keberhasilan kebijakan pemerintah pada tahun 2025 yang memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk pembelian mobil listrik roda empat tertentu. Kebijakan ini berlaku hingga Desember 2025, dengan syarat kandungan lokal minimal 40%, bertujuan untuk mendorong industri dalam negeri.
Kebijakan PPN DTP tersebut, menurutnya, terbukti sangat efektif dalam mengakselerasi pembentukan pasar kendaraan listrik di Tanah Air, sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem industri pendukungnya. Langkah ini tidak hanya mengurangi beban konsumen, tetapi juga mengirimkan sinyal positif bagi investor untuk berinvestasi dalam rantai pasok EV domestik, demikian laporan 55tv.co.id. Dengan demikian, penguatan dan keberlanjutan insentif untuk kendaraan listrik bukan hanya sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian energi dan melindungi stabilitas ekonominya dari gejolak global yang tak terduga.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar