55 NEWS – Proyek pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang akan menjangkau kawasan bersejarah Kota Tua ditargetkan rampung pada tahun 2029. Kehadiran infrastruktur transportasi modern ini diproyeksikan menjadi katalisator utama dalam mengubah lanskap ekonomi dan sosial di wilayah Jakarta Utara, khususnya kawasan Kota Tua, menjadikannya lebih mudah diakses dan berdaya saing tinggi di mata investor dan wisatawan.

Related Post
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam keterangannya di Balai Kota Jakarta pada Kamis (9/4/2026), menegaskan bahwa MRT akan menjadi "game changer" bagi Kota Tua. "Begitu MRT selesai sampai Kota Tua pada 2029, pasti kawasan ini akan menjadi sangat berbeda," ujarnya, mengindikasikan dampak transformatif yang signifikan terhadap daya tarik wisata, aktivitas bisnis, dan kualitas hidup masyarakat. Integrasi transportasi massal ini diharapkan mampu mendongkrak potensi ekonomi lokal secara signifikan.

Menyikapi potensi besar ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyiapkan langkah strategis berupa revitalisasi dan penataan komprehensif kawasan Kota Tua. Konsep Pengembangan Berorientasi Transit (Transit-Oriented Development/TOD) untuk Kota Tua pun telah dirancang matang, memastikan integrasi antara transportasi publik dan pengembangan urban yang berkelanjutan. Hal ini mencakup kemudahan aksesibilitas dan konektivitas bagi para pengunjung maupun pelaku ekonomi di area tersebut, menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan investasi.
Selain pengembangan MRT, Pemprov DKI juga tengah menggarap proyek peningkatan layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line menuju kawasan yang sama. Pramono menjelaskan bahwa proyek ini memanfaatkan lintasan kereta api lama yang sebelumnya belum optimal dalam penggunaannya, kini akan dialiri listrik. "Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa selesai. Ini memanfaatkan lintasan lama yang dialiri listrik, yang dulu belum termanfaatkan, lewat Kota Tua, ke Tanjung Priok, hingga JIS," ungkapnya, menyoroti efisiensi pemanfaatan aset infrastruktur yang ada.
Penting untuk digarisbawahi, proyek KRL ini bukanlah pembangunan jalur baru, melainkan proses elektrifikasi jalur kereta yang sebelumnya beroperasi non-listrik. Langkah ini akan secara fundamental mengubah sistem transportasi di wilayah utara Jakarta, memberikan opsi mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan bagi jutaan warga. Integrasi MRT dan KRL diharapkan menciptakan ekosistem transportasi publik yang solid, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kualitas pariwisata di salah satu ikon Ibu Kota tersebut, serta membuka peluang bisnis baru di sepanjang koridornya.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar