55 NEWS – Asia Tenggara telah bertransformasi menjadi arena krusial bagi industri gim global, dengan proyeksi menampung sekitar 290 juta pemain pada tahun 2025 dan nilai pasar yang diperkirakan mencapai USD6,6 miliar. Lebih jauh, ekosistem gaming yang lebih luas di kawasan ini diprediksi akan meroket hingga USD14 miliar pada tahun 2030. Dalam konstelasi pertumbuhan yang masif ini, Indonesia tak hanya sekadar ikut serta, melainkan memposisikan diri sebagai salah satu kekuatan utama, terutama sebagai pasar gaming terbesar yang digerakkan oleh komunitas di Asia Tenggara.

Related Post
Charlie Baillie, CEO dan Co-Founder Ampverse, menyoroti bahwa persepsi terhadap gaming di Asia Tenggara seringkali masih terbatas, hanya dipandang sebagai bentuk hiburan semata atau sekadar kanal media digital. Namun, Baillie menegaskan, pandangan semacam itu kini sudah usang, terutama jika melihat dinamika pasar Indonesia.

Studi bertajuk ‘Unlocking the Value of Gaming in Southeast Asia’ secara gamblang memaparkan bahwa Indonesia bukan sekadar pasar gaming terbesar dari sisi kuantitas pemain. Kekuatan sesungguhnya terletak pada bagaimana kreator konten, komunitas yang solid, dan relevansi budaya secara fundamental membentuk proses penemuan dan adopsi gim. "Bagi para pelaku merek dan penerbit, potensi di Indonesia bukan hanya soal besarnya pasar, melainkan esensi dalam memahami bagaimana pengaruh dibangun dan dipertahankan di tengah ekosistem yang unik ini," jelas Baillie, dikutip dari 55tv.co.id.
Secara lebih luas, laporan tersebut menggarisbawahi bahwa industri gaming di Asia Tenggara telah melampaui status ‘niche’. Ia kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi konsumen dan media yang masif, dengan dampak signifikan terhadap strategi perusahaan dalam membangun relevansi, menjangkau audiens, serta memacu pertumbuhan di seluruh kawasan.
Ampverse memproyeksikan bahwa jumlah gamer di Asia Tenggara akan menembus angka 330 juta pada tahun 2030, semakin mengukuhkan posisi kawasan ini sebagai salah satu pasar gaming paling dinamis dan terbesar di dunia. Bagi para pengusaha, titik fokus utama bukan hanya pada besarnya pasar, melainkan pada pergeseran fundamental sumber nilai ekonomi. Meskipun pendapatan langsung dari industri gaming diperkirakan akan meningkat dari USD6,6 miliar pada tahun 2025 menjadi USD7,1 miliar pada tahun 2028, laporan ini secara tegas menunjukkan bahwa peluang yang jauh lebih besar justru terletak pada ekosistem gaming yang lebih luas. Ini mencakup peran kreator konten, kekuatan komunitas, format livestreaming yang interaktif, hingga keterlibatan berbasis iklan. Ekosistem komprehensif ini diproyeksikan mencapai valuasi USD14 miliar pada tahun 2030, sebuah indikasi jelas bahwa dampak komersial gaming kini jauh melampaui sekadar pembelian di dalam game.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar