55 NEWS – Jakarta – Ancaman krisis bahan baku plastik global kini membayangi stabilitas pasokan kemasan pangan di Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di Iran, telah memicu gangguan serius pada ketersediaan nafta, komponen vital dalam produksi plastik. Menanggapi situasi genting ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat memetakan strategi mitigasi, termasuk penjajakan impor dari berbagai negara dan adopsi teknologi penyimpanan canggih. Demikian dilaporkan oleh 55tv.co.id pada Senin, 20 April 2026.

Related Post
Sam Herodian, Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, mengungkapkan bahwa salah satu opsi strategis yang sedang dipertimbangkan adalah mengimpor plastik kemasan dari Malaysia. Momentum ini dinilai tepat mengingat Indonesia juga tengah menjajaki peluang ekspor beras ke negara jiran tersebut.

"Kami melihat ada peluang impor dari Malaysia. Tawaran ini sedang kami kaji, mengingat bahan baku utama kita (nafta) berasal dari minyak bumi," jelas Sam Herodian dalam sebuah media briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah.
Penjajakan impor ini tidak hanya berfokus pada kemasan plastik ritel standar 5 kilogram, melainkan juga mencakup teknologi penyimpanan mutakhir seperti hermetic bag. Teknologi inovatif ini diklaim memiliki kemampuan luar biasa untuk menjaga kualitas beras hingga 2-3 tahun tanpa memerlukan bahan kimia pengawet.
"Bukan hanya plastik kemasan 5 kilogram, tetapi juga hermetic bag yang bisa menyimpan beras hingga bertahun-tahun tanpa obat," imbuhnya. Sam Herodian menambahkan bahwa pemerintah tetap membuka opsi penjajakan dengan negara produsen lain, termasuk Rusia, untuk menghindari ketergantungan pada satu sumber pasokan dan memastikan diversifikasi yang kuat.
Senada dengan pandangan tersebut, I Gusti Ketut Astawa, Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, mengakui adanya dampak signifikan dari guncangan ekonomi politik global terhadap industri pengemasan di Tanah Air. Bapanas bahkan telah melakukan simulasi awal yang menunjukkan bahwa kenaikan biaya produksi plastik sebesar 10 persen berpotensi memicu lonjakan harga pangan secara keseluruhan, yang tentu akan membebani masyarakat.
Langkah proaktif pemerintah ini menunjukkan keseriusan dalam mengantisipasi potensi krisis yang lebih luas, terutama terkait dengan ketahanan pangan nasional. Diversifikasi sumber pasokan dan adopsi teknologi baru diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan terhadap gejolak pasar global yang tidak menentu, demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di setiap dapur keluarga Indonesia.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar