Gelombang Ekonomi Global Terjang Desa: Rupiah Melemah, Harga Pangan Impor Mencekik Rakyat Jelata!

55 NEWS – Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menyentuh level krusial Rp17.600 per dolar AS bukan sekadar angka di pasar valuta. Lebih dari itu, pelemahan mata uang domestik ini berpotensi memicu gelombang kenaikan harga pangan yang tak terhindarkan, bahkan hingga ke pelosok desa, meskipun mereka tak bersentuhan langsung dengan transaksi dolar AS.

COLLABMEDIANET

Menurut pengamat pertanian dan pangan terkemuka, Khudori, fondasi ketahanan pangan nasional masih sangat bergantung pada pasokan impor. Ia menyoroti beberapa komoditas vital yang sepenuhnya atau sebagian besar diimpor. Gandum, misalnya, yang menjadi bahan baku utama mi instan, roti, dan tepung terigu, 100 persen masih didatangkan dari luar negeri. Gula industri juga menunjukkan ketergantungan signifikan dengan impor sekitar 3-3,5 juta ton per tahun. Kedelai, bahan baku esensial untuk tahu dan tempe yang menjadi lauk pokok masyarakat, lebih dari 80 persennya berasal dari impor. Bawang putih, bumbu dapur universal, 98 persennya masih impor. Bahkan, hampir separuh kebutuhan daging sapi nasional, sekitar 80 persen susu, dan seluruh garam industri juga masih mengandalkan pasokan dari luar.

Gelombang Ekonomi Global Terjang Desa: Rupiah Melemah, Harga Pangan Impor Mencekik Rakyat Jelata!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Khudori menjelaskan bahwa depresiasi Rupiah ini menjadi ‘guncangan’ tambahan yang memperparah nasib harga jual produk pangan akhir, baik di perkotaan maupun pedesaan. Ia menambahkan, konflik geopolitik yang berkecamuk di Timur Tengah saat ini telah menjadi ‘guncangan’ pertama. Konflik tersebut secara langsung memicu kenaikan biaya transportasi laut, premi asuransi pengiriman, serta menambah ongkos logistik impor secara keseluruhan.

Di sisi lain, para importir wajib menukarkan Rupiah mereka ke dolar AS untuk membeli dan mendatangkan komoditas dari pasar internasional. Ketika dolar AS menguat signifikan, seperti yang terjadi saat ini, jumlah Rupiah yang harus ditukarkan menjadi jauh lebih besar untuk mendapatkan volume barang yang sama. "Memang ketika Rupiah mengalami depresiasi, pukulannya jadi dua kali lipat karena barang impor dibayar dalam mata uang asing. Memang benar masyarakat desa tidak menggunakan dolar, tetapi dampak tidak langsung tetap kena," tegas Khudori saat dihubungi 55tv.co.id, belum lama ini.

Fenomena ini menegaskan bahwa dalam ekonomi global yang terintegrasi, gejolak di satu sektor atau mata uang dapat merambat dan memengaruhi kehidupan masyarakat di lapisan paling bawah sekalipun, menjadikannya isu krusial yang membutuhkan perhatian serius dari pemangku kebijakan.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar