55 NEWS – Sektor logistik nasional, yang kontribusinya mencapai angka fantastis Rp1.700 triliun terhadap perekonomian, kini dihadapkan pada gelombang tantangan tak terduga. Ketidakpastian ekonomi global yang kian pekat ditambah eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, secara langsung mengancam kelancaran arus perdagangan dan stabilitas rantai pasok. Dalam menghadapi dinamika yang bergejolak ini, kolaborasi erat antar-pemangku kepentingan menjadi krusial untuk meredam volatilitas dan menjaga denyut nadi distribusi barang tetap berdetak.

Related Post
Direktur CKB Logistics, Iman Sjafei, menyoroti bagaimana gejolak geopolitik telah memicu fluktuasi signifikan pada jalur-jalur perdagangan utama, menciptakan hambatan nyata bagi pergerakan barang. "Ketegangan geopolitik dunia bukan lagi ancaman abstrak, melainkan telah menjelma menjadi penghambat konkret. Melalui CKB Supply Chain Forum 2026, kami mengundang seluruh elemen industri untuk bersinergi merumuskan solusi logistik yang tidak hanya tangguh, tetapi juga responsif dan terintegrasi," papar Iman dalam keterangan resminya, yang diterima 55tv.co.id pada Minggu (28/6/2026).

Forum CKB Supply Chain (CSCF) 2026, sebuah inisiatif strategis, dirancang untuk mempertemukan para pemimpin perusahaan dari beragam sektor industri dan pelanggan guna membangun strategi adaptif di tengah ketidakpastian. CKB Logistics, yang merupakan anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM), tidak bergerak sendiri. Mereka menggandeng Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk memperkuat fondasi kolaborasi ini. Iman menegaskan, "Sinergi ini adalah sebuah keharusan agar kita mampu memitigasi risiko, mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk, dan memastikan roda distribusi terus berputar tanpa henti."
Lebih lanjut, Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, Ety Puspitasari, menekankan urgensi transformasi dalam manajemen rantai pasok, khususnya di sektor industri strategis. Menurutnya, pendekatan operasional tidak bisa lagi semata-mata berorientasi pada efisiensi biaya (efficiency-driven). Paradigma harus bergeser menuju ketahanan (resilience-driven) sebagai prioritas utama.
"Membangun ketahanan bukan berarti menghindari gangguan secara mutlak. Sebaliknya, ini dicapai melalui desain jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi intensif di seluruh ekosistem logistik," jelas Ety. Tujuan utamanya adalah memastikan pemulihan bisnis dapat berlangsung jauh lebih cepat atau recover faster saat krisis melanda.
Untuk menaklukkan kompleksitas tantangan operasional, Ety memaparkan bahwa perusahaan wajib mengimplementasikan manajemen risiko rantai pasok yang komprehensif. Ini mencakup kerangka kerja terintegrasi yang meliputi tata kelola risiko (risk governance), peningkatan visibilitas, fleksibilitas operasional, penguatan kolaborasi, dan komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). "Langkah konkretnya meliputi pemetaan risiko dari hulu ke hilir (end-to-end), penyusunan prosedur operasional standar (SOP) kontingensi yang adaptif, hingga pemanfaatan teknologi mutakhir seperti Digital Control Tower untuk mencapai tingkat visibilitas operasional yang optimal," tegas Ety, menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam menjaga stabilitas rantai pasok di era yang penuh gejolak ini.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar