55tv.co.id – Mata uang Garuda kembali menghadapi badai tekanan. Nilai tukar rupiah terperosok dalam jurang pelemahan, terbebani oleh gejolak global dan tantangan ekonomi domestik yang tak kunjung usai. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di pasar keuangan.

Related Post
Pada penutupan perdagangan Rabu 8 Juli 2026 rupiah ambruk 34 poin. Kini satu dolar AS setara Rp18.014 dari sebelumnya Rp17.980. Pelemahan signifikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Pakar Ekonomi Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti ketegangan di Selat Hormuz sebagai pemicu utama keguncangan pasar global. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas terutama setelah Washington menarik konsesi penjualan minyak Teheran menciptakan gelombang ketidakpastian baru.
Menurut Ibrahim serangan Komando Pusat AS Centcom terhadap Iran ditujukan untuk memberi ‘biaya mahal’ atas gangguan pelayaran komersial. Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran serius akan terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.
Tak hanya itu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperparah tekanan pada mata uang negara berkembang. Investor kini menanti notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal FOMC bulan Juni untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS.










Tinggalkan komentar