55tv.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini membuka tabir opsi mengejutkan terkait lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII. Alih-alih terpaku pada kawasan ekonomi khusus yang telah santer dibicarakan, kini lahan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Pulau Dewata Bali menjadi pertimbangan serius.

Related Post
Keputusan ini muncul setelah Airlangga bersama CEO Danantara melakukan kunjungan intensif ke Bali. Mereka tidak hanya meninjau sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sebelumnya digadang-gadang sebagai markas pusat keuangan global ini, namun juga melirik potensi lahan BUMN yang strategis.

"Kami melihat beberapa KEK, dan juga lahan di Bali Barat, serta area dekat bandara yang dikelola BUMN. Ini semua menjadi alternatif kuat untuk pendirian PFII," ungkap Airlangga saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian.
Meski demikian, Menko Airlangga belum dapat memastikan secara spesifik apakah PFII akan berlabuh di KEK Kura Kura, Sanur, atau justru di luar KEK. Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara karakteristik KEK dan pusat keuangan. Sebuah fasilitas finansial murni dapat berdiri sendiri, namun jika ingin diukir sebagai wilayah khusus, barulah ia menjadi KEK.
Terlepas dari lokasi persis yang akan dipilih, Airlangga menegaskan bahwa infrastruktur di Bali sudah sangat memadai. Keberadaan KEK di sektor kesehatan bahkan diproyeksikan dapat menjadi penopang vital bagi para pekerja yang nantinya berkarya di PFII. Ini menunjukkan kesiapan Bali untuk menyambut kehadiran pusat keuangan berskala internasional.










Tinggalkan komentar