55tv.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan. Ia berkelakar bahwa dirinya adalah pemimpin keuangan paling bernasib buruk di seluruh dunia. Ungkapan ini disampaikan Purbaya saat membeberkan segudang cobaan dan dinamika berat yang melanda perekonomian Tanah Air sejak awal ia menjabat. Pernyataan tersebut terlontar dalam sambutannya di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, pada Selasa (4/8/2026) lalu.

Related Post
Purbaya menuturkan, rentetan ujian ekonomi dan politik langsung menyambutnya begitu ia resmi menjadi Bendahara Negara. Awal kepemimpinannya ditandai oleh gejolak massa besar pada Agustus 2025. Unjuk rasa itu dipicu akumulasi kekecewaan publik terhadap rencana kenaikan tunjangan anggota dewan, ditambah kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak menentu.

Belum usai meredakan turbulensi domestik, Kementerian Keuangan harus berjibaku dengan peninjauan indeks saham oleh MSCI. Tak lama berselang, lembaga pemeringkat internasional sekelas Fitch Ratings dan Moody’s ikut menyematkan catatan rating negatif. "Ketika saya mengambil jabatan, saya menghadapi demonstrasi yang besar. Setelah kami mengstabilkan demo, saya menghadapi MSCI dan kemudian, saya menghadapi rating negatif dari Fitch dan Moody’s," ungkapnya, mengulang kembali momen-momen sulit tersebut.
Namun, di tengah badai tekanan itu, otoritas keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan luar biasa. Mereka berhasil mempertahankan status pasar modal Tanah Air dalam jajaran Emerging Market. Keberhasilan ini tak lepas dari apresiasi MSCI terhadap langkah reformasi pasar modal yang dilakukan pemerintah, sehingga masa evaluasi diperpanjang hingga November 2026.
Ujian bagi perekonomian nasional ternyata belum berhenti di situ. Purbaya melanjutkan, gejolak geopolitik akibat keterlibatan perang di Iran, ditambah ketatnya likuiditas global dan desakan nilai tukar rupiah, menjadi cobaan berat berikutnya. Situasi ini benar-benar menguji keampuhan kebijakan fiskal pemerintah. "Setelah kami menyelesaikan semuanya, kemudian ada perang di Iran. Setelah itu, mereka tidak menyukai saya. Mereka mengatakan bahwa Menteri ini tidak cukup baik," jelas Purbaya, menggambarkan betapa beratnya beban yang ia pikul.








Tinggalkan komentar