55tv.co.id – Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah strategis besar-besaran untuk memperkuat sektor peternakan nasional. Melalui pembangunan ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, pemerintah berupaya menjamin ketersediaan protein hewani seperti ayam, telur, dan susu guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri.

Related Post
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa proyek ambisius ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Fokus utamanya adalah memperkuat industri peternakan dalam negeri agar tidak lagi bergantung pada pasokan luar. Untuk mendukung visi besar ini, pemerintah telah mengalokasikan dana fantastis mencapai Rp17 triliun.

Dalam kunjungan kerjanya di Bone, Sulawesi Selatan, Mentan Amran menjelaskan bahwa pembangunan ini akan difokuskan pada lima kawasan strategis. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Khusus untuk pengembangan di lima lokasi tersebut, anggaran sebesar Rp2,2 triliun telah disiapkan dan sudah mendapatkan persetujuan dari Presiden.
"Targetnya tahun depan sudah selesai. Semua urusan administrasi dan anggaran sudah beres, jadi pengerjaan di lapangan bisa segera dipercepat," tegas Mentan Amran.
Konsep yang diusung adalah ekosistem holistik. Artinya, pembangunan tidak hanya fokus pada peternakan saja, melainkan mencakup seluruh rantai pasok. Hal ini meliputi penyediaan pakan ternak, fasilitas pembibitan atau Day Old Chick (DOC), proses budidaya ayam, hingga produksi telur dan pengembangan sapi perah untuk kebutuhan susu.
Salah satu poin krusial dalam proyek ini adalah efisiensi logistik melalui pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi bahan baku. Sebagai contoh, jagung yang merupakan komponen utama pakan akan diambil langsung dari petani di sekitar kawasan peternakan, seperti di wilayah Bone dan Soppeng.
"Jika pabrik pakan dibangun dekat dengan sumber jagung, biaya logistik akan jauh lebih murah. Kita tidak perlu lagi mengirim jagung ke kota besar untuk diolah, lalu mengirimnya kembali ke peternak. Semuanya dilakukan secara lokal agar lebih efisien," tambahnya.
Selain itu, ketersediaan bibit ayam (DOC) juga akan diperkuat melalui pembangunan fasilitas pembibitan di lokasi yang berdekatan dengan sentra produksi. Hal ini bertujuan agar peternak dapat memperoleh bibit berkualitas dengan biaya distribusi yang rendah.
Langkah masif ini juga diproyeksikan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan ekosistem yang kuat, kebutuhan protein seperti ayam, telur, dan susu untuk program tersebut dapat dipasok langsung dari produksi dalam negeri, sehingga menciptakan pasar yang stabil bagi para peternak lokal.










Tinggalkan komentar