55tv.co.id – Praktik kecurangan dalam distribusi pangan kembali mencuat ke permukaan. Perum Bulog baru-baru ini membongkar sebuah modus operandi licik yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Mereka diduga melakukan pengoplosan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan tujuan untuk menjualnya kembali sebagai beras kualitas premium dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Related Post
Modus yang dijalankan para pelaku tergolong cukup rapi karena memanfaatkan celah dalam sistem distribusi resmi. Berdasarkan temuan di lapangan, para pelaku diduga membeli beras SPHP melalui aplikasi resmi milik Bulog, yakni Klik SPHP. Setelah mendapatkan stok beras subsidi tersebut, mereka tidak mendistribusikannya ke masyarakat sesuai peruntukannya, melainkan melakukan pengemasan ulang (repacking) ke dalam karung baru yang berlabel beras premium.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memberikan penjelasan mendalam mengenai temuan ini dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Kamis (29/10/2026). Ia menegaskan bahwa secara administratif, proses pembelian beras melalui aplikasi Klik SPHP sebenarnya sudah berjalan sesuai dengan protokol dan prosedur yang ditetapkan oleh perusahaan.
"Kami menemukan adanya oknum yang membeli beras tersebut melalui program Klik SPHP. Jadi, jika dilihat dari sisi proses pembeliannya, semuanya memang dilakukan sesuai prosedur yang ada," ujar Rizal di hadapan awak media.
Namun, masalah muncul ketika beras yang telah dibeli secara sah tersebut justru disalahgunakan oleh oknum pemilik Rumah Pangan Kita (RPK). RPK sendiri merupakan mitra resmi Bulog yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyalurkan pangan murah kepada masyarakat luas. Alih-alih membantu menjaga stabilitas harga, oknum mitra ini justru mencari keuntungan pribadi dengan memanipulasi kualitas produk.
Aplikasi Klik SPHP sejatinya dirancang untuk memudahkan RPK maupun pengecer pasar yang telah terdaftar secara resmi dalam sistem Bulog untuk mendapatkan pasokan pangan. Setiap transaksi yang terjadi di dalam aplikasi tersebut telah terekam secara digital. Setiap pembeli memiliki identitas yang jelas dan tercatat secara sistematis, baik di kantor Bulog tingkat daerah maupun di kantor pusat.
Data digital inilah yang menjadi kunci utama bagi pihak Bulog dalam melakukan investigasi. Berbekal rekam jejak transaksi tersebut, Bulog berhasil mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga kuat melakukan praktik pengemasan ulang ilegal di kawasan Matraman, Jakarta Timur.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh mitra distribusi pangan agar tetap menjaga integritas. Bulog berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan guna memastikan beras subsidi tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan oleh oknum nakal yang ingin meraup keuntungan di tengah upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional.










Tinggalkan komentar