55tv.co.id – Langkah drastis tengah diambil oleh Danantara Indonesia dalam melakukan transformasi besar-besaran terhadap struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam upaya menyelamatkan keuangan negara dari beban masa lalu, Danantara secara resmi telah menutup dan merampingkan sebanyak 364 perusahaan pelat merah yang selama ini terus mencatatkan kerugian.

Related Post
Keputusan ekstrem ini bukan tanpa alasan. Langkah pembersihan massal ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menghentikan "pendarahan" keuangan yang telah berlangsung lama. Dengan memangkas entitas yang tidak produktif, Danantara menargetkan pencapaian laba bersih konsolidasi yang sangat ambisius, yakni mencapai angka Rp360 triliun pada tahun ini.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa perombakan ini adalah restrukturisasi korporasi terbesar dalam sejarah Indonesia. Fokus utamanya adalah menyaring perusahaan mana saja yang benar-benar memiliki daya saing dan kesehatan finansial yang mumpuni.
"Danantara telah berhasil merampingkan dan menutup 364 perusahaan BUMN yang merugi atau tidak efisien. Tujuannya adalah menyederhanakan total 1.074 perusahaan agar nantinya hanya tersisa di bawah 200 entitas," ungkap Dony dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta.
Menurut Dony, restrukturisasi ini sangat krusial untuk membuang beban masa lalu yang selama ini menghambat pertumbuhan. Dengan struktur yang lebih ramping dan efisien, perusahaan diharapkan dapat bergerak lebih lincah dalam mengejar target laba yang telah ditetapkan.
Dalam proses penataan portofolio, Danantara membagi total 1.074 entitas ke dalam empat pilar strategi utama. Salah satu pilar yang paling menonjol adalah pilar konsolidasi atau merger. Melalui strategi ini, sekitar 200 perusahaan akan dilebur berdasarkan kesamaan lini bisnisnya agar tercipta efisiensi operasional yang maksimal.
Beberapa langkah merger yang telah dan sedang berjalan meliputi penyatuan 23 kawasan industri menjadi satu entitas tunggal. Di sektor jasa keuangan, lima manajer investasi akan digabung menjadi satu, sementara 16 perusahaan asuransi akan diciutkan menjadi hanya tiga entitas besar, yaitu asuransi jiwa, umum, dan kredit.
Tidak hanya di sektor industri dan keuangan, sektor layanan publik pun turut mengalami perampingan. Sebanyak 60 rumah sakit milik BUMN akan digabungkan di bawah satu induk perusahaan, dan 120 hotel milik negara akan disatukan dalam satu payung manajemen. Selain itu, perusahaan sekuritas juga akan dirampingkan menjadi hanya dua entitas saja.
Sebagian besar dari proses penggabungan dan perampingan ini ditargetkan akan tuntas pada akhir tahun ini. Dengan skema baru ini, pemerintah berharap BUMN tidak lagi menjadi beban APBN, melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi nasional yang mampu menyumbangkan keuntungan fantastis bagi kas negara.










Tinggalkan komentar