55tv.co.id – Laju perekonomian Indonesia diprediksi akan menunjukkan performa yang cukup solid pada periode kuartal ketiga tahun 2026. Berdasarkan proyeksi terbaru, angka pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan menyentuh level 5,28 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka ini berada dalam rentang estimasi yang cukup stabil, yakni antara 5,25 persen hingga 5,30 persen.

Related Post
Namun, di balik angka pertumbuhan makroekonomi yang terlihat menjanjikan tersebut, terdapat sebuah fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan yang menjadi sorotan para ahli. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan adanya kesenjangan antara data statistik resmi dengan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat di lapangan.

Dalam laporan Indonesia Economic Outlook 2027 yang dirilis di Jakarta, ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, memperkenalkan sebuah indikator baru yang disebut sebagai "pertumbuhan yang dirasakan" atau perceived growth. Menariknya, angka pertumbuhan yang dirasakan masyarakat ini diprediksi hanya akan berada di level 4,74 persen yoy. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) resmi yang diproyeksikan mencapai 5,28 persen.
Untuk memudahkan pemahaman publik, Riefky menggunakan analogi yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yakni aplikasi prakiraan cuaca. Ia menjelaskan bahwa dalam aplikasi cuaca, sering kali terdapat perbedaan antara suhu aktual yang tercatat oleh sensor dengan suhu yang benar-benar dirasakan oleh kulit manusia.
"Kami memperkenalkan dua jenis proyeksi pertumbuhan. Satu adalah proyeksi terhadap angka resmi, dan satu lagi adalah proyeksi terhadap pertumbuhan yang dirasakan oleh masyarakat," ujar Riefky dalam paparannya. Analogi ini secara tajam menggambarkan adanya jarak atau gap antara statistik ekonomi makro yang terlihat positif dengan daya beli nyata yang sedang dialami oleh rumah tangga di Indonesia.
Beberapa indikator ekonomi makro menjadi dasar dalam penilaian proyeksi kuartal III-2026 ini. Salah satu sinyal yang cukup mengkhawatirkan adalah penurunan rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Data menunjukkan bahwa IKK mengalami penurunan menjadi 117,8 pada kuartal III 2026, turun dari posisi 120,6 pada kuartal sebelumnya.
Penurunan kepercayaan konsumen ini tidak merata di seluruh lapisan masyarakat. Kelompok rumah tangga dengan tingkat pengeluaran rendah, yakni di rentang Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, mengalami dampak yang paling signifikan. Indeks keyakinan pada kelompok ini merosot tajam sebesar 4,7 poin, hingga menyentuh angka 107,4.
Kondisi ini diperparah dengan melambatnya pertumbuhan kredit konsumsi. Jika sebelumnya pertumbuhan kredit berada di angka 5,92 persen, kini angka tersebut melandai menjadi 5,22 persen. Melambatnya penyaluran kredit ini menjadi sinyal kuat bahwa permintaan kredit dari sektor rumah tangga sedang mengalami pengetatan atau tertahan, yang pada akhirnya mempertegas bahwa daya beli masyarakat tengah menghadapi tantangan besar di tengah pertumbuhan ekonomi nasional.










Tinggalkan komentar