55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan rencana pemanggilan direksi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyusul penurunan tipis realisasi investasi di sektor ESDM sepanjang tahun 2025. Penurunan ini, yang utamanya disebabkan oleh perlambatan di sektor ketenagalistrikan, memicu kekhawatiran terhadap capaian target pembangunan infrastruktur energi nasional dan stabilitas pasokan listrik di masa depan.

Related Post
Data yang dirilis Kementerian ESDM menunjukkan total investasi di sektor ini pada 2025 mencapai USD 31,7 miliar. Angka ini sedikit terkoreksi dari USD 32,3 miliar yang tercatat pada tahun 2024, menandakan adanya perlambatan momentum investasi di salah satu sektor paling krusial bagi perekonomian Indonesia. Bahlil merinci, kontribusi terbesar masih datang dari sektor minyak dan gas bumi (migas) sebesar USD 18 miliar, diikuti mineral dan batubara (minerba) USD 6,7 miliar, ketenagalistrikan USD 4,6 miliar, serta energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) USD 2,4 miliar.

"Pasti teman-teman bertanya, ada koreksi investasi dibandingkan 2024 dan 2025. Di mana koreksinya? Di listrik," tegas Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id. Ia menjelaskan bahwa perlambatan realisasi pembangunan pembangkit dan infrastruktur pendukung menjadi biang keladi utama penurunan ini. Situasi ini mengindikasikan adanya tantangan serius dalam eksekusi proyek-proyek strategis di lapangan.
Menyikapi kondisi tersebut, Bahlil menyatakan akan segera mengadakan rapat koordinasi tingkat tinggi dengan pihak PLN. Tujuannya adalah untuk mendorong percepatan pembangunan pembangkit-pembangkit baru yang telah disetujui dan tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). RUPTL merupakan peta jalan penting bagi pengembangan kelistrikan nasional, dan keterlambatan dalam implementasinya dapat berdampak luas pada ketersediaan listrik dan daya saing industri.
Penurunan investasi di sektor ketenagalistrikan ini menjadi sorotan serius mengingat urgensi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sekaligus ambisi transisi menuju energi bersih. Investasi yang stabil dan berkelanjutan di sektor ini krusial untuk menjaga ketahanan energi nasional, mendukung penciptaan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Langkah tegas Menteri Bahlil diharapkan dapat menjadi katalis untuk mengatasi hambatan birokrasi, tantangan pendanaan, dan operasional yang mungkin menghambat proyek-proyek strategis PLN, demi menjamin pasokan listrik yang andal bagi seluruh masyarakat dan sektor industri.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar