55 NEWS – Pasar keuangan domestik kembali diwarnai sentimen negatif pada penutupan perdagangan terkini, di mana nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah signifikan. Berdasarkan data terkini dari Bloomberg, mata uang Garuda ditutup di level Rp16.819 per dolar AS, terkoreksi 0,13% dari posisi sebelumnya. Pelemahan ini bukan fenomena tunggal, melainkan bagian dari tren koreksi yang melanda mayoritas mata uang utama di kawasan Asia.

Related Post
Gelombang pelemahan ini turut menyeret sejumlah mata uang regional lainnya. Yen Jepang tercatat anjlok 0,39%, diikuti oleh won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,47%, dan ringgit Malaysia dengan koreksi 0,27%. Mata uang lainnya seperti dolar Singapura (-0,14%), dolar Hong Kong (-0,04%), dolar Taiwan (-0,10%), peso Filipina (-0,11%), dan rupee India (-0,20%) juga tak luput dari tekanan jual. Dalam situasi yang penuh gejolak ini, hanya dua mata uang yang mampu menunjukkan ketahanan: yuan China yang menguat tipis 0,04% dan baht Thailand yang perkasa dengan apresiasi 0,25%.

Koreksi serentak di pasar mata uang Asia ini mengindikasikan adanya sentimen global yang memicu aversi risiko, di mana investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS. Spekulasi mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve AS yang mungkin tetap tinggi lebih lama dari perkiraan, serta ketidakpastian geopolitik global, kerap menjadi pemicu utama fluktuasi ini. Bagi Indonesia, pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi biaya impor, terutama bahan baku dan barang modal, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi atau menekan margin keuntungan industri. Namun, di sisi lain, ekspor komoditas Indonesia bisa menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, sebagaimana diulas oleh analis ekonomi 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar