55 NEWS – Konflik geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini menjadi sorotan utama para ekonom global. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah ini diperkirakan akan memicu lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya berpotensi besar menyeret perekonomian global ke jurang inflasi yang lebih dalam. Dampak rambatan dari gejolak ini diperkirakan akan terasa hingga ke kantong masyarakat, memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya hidup yang signifikan.

Related Post
M. Rizal Taufikurahman, seorang Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menekankan bahwa meskipun pemicu utamanya adalah kenaikan harga minyak, efek domino dari konflik ini jauh lebih kompleks dan meluas. Menurutnya, dampak awal memang berasal dari lonjakan harga komoditas energi, namun implikasi jangka panjangnya akan meresap ke berbagai sektor ekonomi.

Rizal menjelaskan, kenaikan harga energi secara otomatis akan mengerek biaya distribusi dan produksi di berbagai sektor. Ini akan memperkuat tekanan inflasi yang sudah ada. "Dampak utamanya tentu pada inflasi dan kemudian merembet ke kebijakan moneter," ujar Rizal dalam wawancara dengan 55tv.co.id di Jakarta, Minggu (1/3/2026). Ia menambahkan, "Minyak memang menjadi pemicu awal, namun biaya logistik pangan, harga pupuk, hingga produk petrokimia juga akan ikut terdongkrak. Ini akan mendorong tekanan inflasi riil dan ekspektasi inflasi masyarakat semakin tinggi."
Lebih lanjut, Rizal menggarisbawahi bahwa ketidakpastian global semacam ini seringkali mendorong pasar keuangan memasuki fase ‘risk-off’. Para investor cenderung mengalihkan modal mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti Dolar AS. Fenomena ini berakibat pada depresiasi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah, yang sudah menghadapi tantangan berat akibat kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Dengan skenario tersebut, otoritas moneter di Tanah Air, khususnya Bank Indonesia, diperkirakan akan lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar Rupiah ketimbang melonggarkan kebijakan suku bunga. "Ketika investor beralih ke Dolar AS, mata uang pasar berkembang cenderung melemah, padahal kondisi ekonomi dan pasar uang kita sedang menghadapi tekanan signifikan," jelas Rizal kepada 55tv.co.id. "Bagi otoritas moneter, ini berarti fokus utama adalah menjaga Rupiah, bukan menurunkan suku bunga. Kebijakan suku bunga kemungkinan besar akan dipertahankan atau bahkan disesuaikan untuk meredam gejolak ini."
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar