55 NEWS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok dalam tekanan signifikan sepanjang pekan perdagangan 2-6 Maret 2026, mencatatkan koreksi tajam sebesar 7,89%. Pergerakan bursa Tanah Air ini sepenuhnya berada di zona merah, mengkhawatirkan para pelaku pasar dan memicu pertanyaan besar mengenai arah pasar modal ke depan.

Related Post
Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), menjelaskan bahwa indeks kini bertengger di kisaran 7.500-an, setelah sebelumnya sempat kokoh di level psikologis 8.200. "Terjadi perubahan signifikan pada pergerakan IHSG selama sepekan, yakni sebesar 7,89%, yang menyebabkan penutupan di level 7.585,687, dari posisi 8.235,485 pada pekan sebelumnya," terang Kautsar dalam rilis resminya yang diterima 55tv.co.id, Sabtu (7/3/2026).

Penurunan IHSG ini turut menggerus kapitalisasi pasar bursa secara substansial. Tercatat, nilai kapitalisasi pasar terkikis 7,85 persen, anjlok dari Rp14.787 triliun menjadi Rp13.627 triliun. Ini berarti sekitar Rp1.160 triliun nilai pasar menguap dalam sepekan. Kondisi ini juga tercermin dari melambatnya seluruh indikator rata-rata transaksi harian di bursa.
Data BEI menunjukkan bahwa nilai transaksi harian rata-rata anjlok 16,64 persen, kini berada di angka Rp24,97 triliun. Tak hanya itu, volume transaksi harian rata-rata juga merosot 17 persen menjadi 42,34 miliar lembar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi harian rata-rata ikut tertekan, turun 7,33 persen menjadi 2,73 juta kali transaksi.
Sentimen negatif semakin diperparah oleh aksi jual bersih (net foreign sell) yang masif dari investor asing. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3), investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp263 miliar. Secara akumulatif, sepanjang tahun 2026, total jual bersih investor asing telah mencapai angka fantastis Rp7,29 triliun, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam terhadap prospek pasar domestik.
Di tengah kelesuan pasar saham, segmen pasar surat utang justru menunjukkan vitalitasnya. Pada Rabu (4/3), BEI berhasil mencatatkan tiga emisi obligasi baru dari sektor pembiayaan, investasi, dan energi, dengan total nilai mencapai Rp3 triliun. Ini mengindikasikan adanya pergeseran minat investor ke instrumen yang dianggap lebih stabil di tengah volatilitas pasar saham.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar