55 NEWS – Jakarta – Jelang Hari Raya, sorotan terhadap Bonus Hari Raya (BHR) bagi mitra pengemudi ojek online (ojol) kembali mengemuka di ranah ekonomi digital. Pengamat transportasi terkemuka, Azas Tigor Nainggolan, menegaskan bahwa skema BHR yang digulirkan oleh perusahaan platform digital sejatinya merupakan kebijakan internal yang bersifat diskresioner, bukan kewajiban normatif layaknya Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pekerja formal. Pernyataan ini muncul di tengah komitmen dua raksasa platform, Grab dan GoTo, yang berencana melipatgandakan anggaran BHR mereka di tahun 2026.

Related Post
Dalam kerangka hubungan kemitraan strategis yang selama ini menjadi landasan operasional platform digital, Azas menjelaskan, BHR diposisikan sebagai bentuk apresiasi berbasis performa. Ini sekaligus menjadi dukungan moral dan finansial yang signifikan bagi para mitra menjelang perayaan Lebaran. "BHR ini sifatnya diskresi atau kebijakan dari aplikator, apakah mereka ingin memberi atau tidak. Jika perusahaan memberikannya, itu adalah bentuk apresiasi agar para mitra bersama keluarganya bisa merayakan Lebaran dengan tambahan dukungan materi dari perusahaan," ungkap Azas dalam keterangan resminya yang diterima 55tv.co.id di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Komitmen Grab dan GoTo untuk menyalurkan BHR 2026 dengan rencana peningkatan anggaran hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, menurut Azas, merupakan sinyal positif dari industri. Langkah ini menunjukkan pengakuan perusahaan terhadap kontribusi vital para mitra dalam ekosistem ekonomi digital yang terus berkembang. Peningkatan anggaran ini juga dapat diinterpretasikan sebagai strategi perusahaan untuk menjaga loyalitas mitra dan mendorong produktivitas di tengah persaingan pasar yang ketat.
Lebih lanjut, Azas menekankan pentingnya mekanisme penyaluran BHR yang ideal. Ia menyarankan agar prinsip keadilan tetap menjadi prioritas utama, dengan mempertimbangkan tingkat aktivitas dan produktivitas masing-masing mitra. "Perusahaan perlu menetapkan kriteria yang jelas dan transparan agar kebijakan ini tidak hanya adil bagi mitra, tetapi juga berkelanjutan secara finansial bagi perusahaan dalam jangka panjang," pungkasnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa insentif yang diberikan benar-benar mendorong kinerja optimal, menjaga stabilitas operasional platform, dan menciptakan ekosistem kemitraan yang saling menguntungkan.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar