Bukan Sekadar Kepatuhan, Skor Ini Penentu Utama Akses Pendanaan Global dan Reputasi Abadi Perusahaan di Tengah Badai Disrupsi!

Bukan Sekadar Kepatuhan, Skor Ini Penentu Utama Akses Pendanaan Global dan Reputasi Abadi Perusahaan di Tengah Badai Disrupsi!

55 NEWS – Dalam lanskap bisnis modern yang semakin kompleks, Environmental, Social, and Governance (ESG) Risk Rating telah berevolusi dari sekadar metrik tambahan menjadi indikator fundamental yang tak terpisahkan dalam mengevaluasi performa korporasi. Di Indonesia, adopsi dan relevansi penilaian ini terus meroket, didorong oleh ekspektasi yang kian tinggi dari investor global, regulator, serta berbagai pemangku kepentingan yang menuntut praktik bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga berkelanjutan dan transparan.

COLLABMEDIANET

Pemerhati ESG terkemuka, Lastyo Lukito, menjelaskan bahwa ESG Risk Rating adalah sebuah kerangka penilaian komprehensif yang dirancang untuk mengukur sejauh mana sebuah perusahaan terpapar pada risiko-risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola. Lebih dari itu, sistem ini juga mengevaluasi kapabilitas perusahaan dalam mengelola dan memitigasi risiko-risiko tersebut secara efektif. "Tujuan utamanya adalah untuk pelaporan yang akuntabel dan sebagai landasan bagi upaya perbaikan berkelanjutan," ungkap Lastyo pada Rabu (28/1/2026).

Bukan Sekadar Kepatuhan, Skor Ini Penentu Utama Akses Pendanaan Global dan Reputasi Abadi Perusahaan di Tengah Badai Disrupsi!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Namun, Lastyo menegaskan bahwa ESG bukan sekadar daftar panjang kepatuhan terhadap regulasi. Lebih jauh, ia adalah strategi esensial untuk menciptakan nilai jangka panjang yang substansial. "Perusahaan yang cakap dalam mengelola risiko ESG akan menunjukkan ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi disrupsi industri, krisis lingkungan yang tak terduga, serta gejolak perubahan sosial yang dinamis," tambahnya.

Sebagai Ketua Umum Asosiasi Ahli Emisi Karbon Indonesia (ACEXI), Lastyo juga menggarisbawahi pergeseran paradigma bisnis di Indonesia menuju pendekatan yang lebih transparan dan berorientasi pada keberlanjutan. "Skor ESG Risk Rating kini tidak hanya memengaruhi peluang perusahaan untuk mengakses pendanaan dari pasar internasional, tetapi juga krusial dalam membangun dan memelihara reputasi korporat dalam jangka panjang," jelasnya. Dampak ini, lanjut Lastyo, sangat terasa terutama bagi entitas bisnis di sektor-sektor vital seperti energi, manufaktur, dan keuangan.

Sebagai ilustrasi konkret, Lastyo menunjuk Pertamina sebagai salah satu raksasa energi yang menunjukkan kinerja ESG Risk Rating yang patut diacungi jempol. Data per 31 Desember 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dalam peringkat ESG Pertamina. Perusahaan minyak dan gas nasional ini berhasil meraih peringkat tertinggi di subindustri migas terintegrasi dunia versi Sustainalytics (dengan skor 23,1, kategori Medium Risk) dan MSCI (peringkat BBB, naik dari BB). Bahkan, subentitasnya, Pertamina Patra Niaga, berhasil meraih rating A untuk pengelolaan emisi karbon. "Pencapaian ini mengindikasikan komitmen kuat Pertamina terhadap keberlanjutan dan transisi energi, di tengah tantangan berat yang dihadapi industri," papar Lastyo.

Senada dengan pandangan tersebut, Penasihat Senior Social Investment Indonesia, Sonny Sukada, turut memberikan perspektif historis. Ia menjelaskan bahwa konsep ESG pertama kali mengemuka sekitar tahun 2004-2005, berawal sebagai kerangka penilaian yang dikembangkan oleh para investor. Tujuannya adalah untuk mengukur kinerja keberlanjutan suatu perusahaan, namun dalam konteks dan implikasi finansial atau keuangan. "Dalam kerangka keuangan berkelanjutan, pelaporan keberlanjutan memegang peranan yang sangat vital," pungkas Sonny.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar