55 NEWS – Industri gim Indonesia menghadapi paradoks yang menarik perhatian pemerintah. Meski berhasil mencatatkan ekspor gemilang hingga USD60,8 juta pada tahun 2025, menempatkannya sebagai kontributor ekspor terbesar keempat setelah fesyen, kriya, dan kuliner, pangsa pasar gim lokal di negeri sendiri justru masih terpuruk di angka sekitar 1%. Kondisi ini memicu urgensi bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan memperkuat kebijakan demi menjadikan gim buatan lokal "tuan rumah" di pasar domestik dan kompetitif di kancah global.

Related Post
Fenomena ini menjadi topik sentral dalam sebuah pertemuan strategis yang digagas pemerintah, mempertemukan para pengembang, investor, dan praktisi industri gim. Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, dalam kesempatan tersebut, menekankan pentingnya transparansi dalam memahami realitas lapangan. "Data ekspor kita menunjukkan potensi luar biasa, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap dominasi produk impor di pasar domestik kita sendiri," ujar Leontinus, Rabu (1/4/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Menyadari urgensi tersebut, pemerintah, melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2024, telah menggariskan percepatan pengembangan industri gim nasional. Semangatnya jelas: mendorong agar gim lokal tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga menjadi pilihan utama bagi konsumen di tanah air.
Leontinus menambahkan bahwa proses perumusan kebijakan yang efektif memerlukan partisipasi publik yang bermakna. Pemerintah mengakui bahwa implementasi regulasi seringkali berhadapan dengan tantangan struktural dan birokrasi yang belum sepenuhnya adaptif. Oleh karena itu, melalui forum "Public Hearing" ini, pemerintah sengaja memposisikan diri sebagai pendengar aktif. Tujuannya adalah menyerap berbagai masukan krusial, mulai dari kendala pendanaan yang kerap menghambat inovasi, dominasi publisher asing yang membatasi ruang gerak pengembang lokal, hingga tantangan struktural lainnya yang menghambat pertumbuhan ekosistem gim nasional.
"Pemerintah hadir sebagai pendengar, sementara para pelaku industrilah yang kami harapkan menjadi pembicara utama. Kami meminta agar semua masukan, saran, keluhan mengenai ‘pain points’, bahkan kritik pedas sekalipun, disampaikan secara terbuka. Jangan ada yang ditahan-tahan," tegas Leontinus, menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk membangun ekosistem industri gim yang lebih kondusif dan berpihak pada produk dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat menjadi titik balik bagi industri gim Indonesia untuk tidak hanya berjaya di pasar ekspor, tetapi juga menguasai pasar di rumah sendiri.
Editor: Akbar soaks







Tinggalkan komentar