55 NEWS – Jakarta – Dinamika pasar pangan nasional menunjukkan pergerakan yang menarik dan cukup mengejutkan menjelang bulan suci Ramadhan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Minggu (8/2/2026) pukul 09.30 WIB, mayoritas komoditas pokok terpantau mengalami penurunan harga yang signifikan. Ini tentu menjadi angin segar bagi konsumen di tengah persiapan menyambut periode peningkatan permintaan. Namun, di balik tren deflasi yang meluas, ada satu jenis beras yang justru melonjak harganya, memicu pertanyaan tentang stabilitas pasokan di segmen tertentu.

Related Post
Situasi ini menjadi sorotan utama bagi para pengamat ekonomi dan rumah tangga. Penurunan harga pada banyak item strategis berpotensi meringankan beban belanja masyarakat yang biasanya meningkat menjelang dan selama Ramadhan. Namun, kenaikan pada komoditas beras khusus lokal juga perlu dicermati agar tidak menimbulkan distorsi harga atau memicu inflasi di sektor lainnya.

Secara rinci, sektor perberasan menunjukkan tren penurunan pada sebagian besar jenisnya. Beras premium terkoreksi 1,47% menjadi Rp15.418 per kg, sementara beras medium turun 0,89% menjadi Rp13.262 per kg. Beras SPHP, yang menjadi andalan program stabilisasi pemerintah, juga mengalami penurunan 0,51% ke angka Rp12.395 per kg, dan beras medium non SPHP turun 0,62% menjadi Rp13.841 per kg. Selain beras, jagung juga mengalami penurunan tajam sebesar 4,47% menjadi Rp6.605 per kg, diikuti kedelai biji kering impor yang terkoreksi 1,78% menjadi Rp10.711 per kg.
Komoditas bumbu dapur dan cabai juga kompak menunjukkan tren penurunan. Bawang merah turun 4,88% menjadi Rp38.747 per kg dan bawang putih terkoreksi 3,13% menjadi Rp37.549 per kg. Harga cabai juga anjlok: cabai merah keriting turun 5,11% menjadi Rp38.940 per kg, cabai merah besar turun 8,75% menjadi Rp35.241 per kg, dan cabai rawit merah turun 1,36% menjadi Rp66.626 per kg.
Sektor protein hewani turut berkontribusi pada penurunan harga. Daging sapi murni turun 0,88% menjadi Rp135.384 per kg, daging ayam ras turun 2,13% menjadi Rp38.870 per kg, dan telur ayam ras juga terkoreksi 1,71% menjadi Rp30.058 per kg.
Barang kebutuhan pokok lainnya seperti gula konsumsi turun 1,32% menjadi Rp17.985 per kg. Minyak goreng, baik kemasan maupun curah, juga mengalami penurunan masing-masing 1,06% menjadi Rp20.897 per liter dan 1,28% menjadi Rp17.493 per liter. Minyakita, produk minyak goreng bersubsidi, turun 2,04% menjadi Rp17.058 per liter. Tepung terigu curah dan kemasan juga kompak turun, masing-masing 3,37% menjadi Rp9.411 per kg dan 2,51% menjadi Rp12.606 per kg.
Namun, di tengah gelombang penurunan harga yang menggembirakan ini, ada satu anomali yang patut menjadi perhatian serius: beras khusus lokal. Komoditas ini justru melonjak 2,10% menjadi Rp16.016 per kg. Kenaikan pada beras khusus lokal ini menuntut analisis lebih lanjut dari otoritas terkait untuk memahami faktor pendorongnya, apakah karena kelangkaan pasokan di tingkat lokal, peningkatan permintaan untuk jenis beras premium tertentu, atau adanya kendala distribusi.
Secara keseluruhan, data Bapanas yang diakses oleh 55tv.co.id ini menggambarkan gambaran pasar pangan yang cukup dinamis menjelang Ramadhan. Mayoritas penurunan harga diharapkan dapat memberikan sedikit kelegaan bagi masyarakat, meskipun kenaikan pada beras khusus lokal tetap menjadi catatan penting yang perlu diwaspadai. Pemerintah dan pelaku pasar perlu terus memantau pergerakan harga ini secara cermat untuk memastikan stabilitas pasokan dan daya beli masyarakat tetap terjaga selama bulan puasa dan Idul Fitri.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar