55 NEWS – Jakarta – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 telah menyajikan potret menarik pergerakan ekonomi dan mobilitas masyarakat di sektor transportasi darat. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mengumumkan bahwa operasional angkutan darat secara umum berlangsung aman dan terkendali. Namun, data yang dihimpun hingga H+1 Natal, atau 26 Desember 2025, menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam preferensi moda transportasi: lebih dari 1,5 juta orang memilih bus umum, sementara angkutan kapal penyeberangan justru melonjak dengan angka fantastis mencapai 1,73 juta penumpang.

Related Post
Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, dalam keterangannya yang dikutip 55tv.co.id pada Minggu (28/12/2025), menegaskan bahwa kelancaran arus mudik Natal ini merupakan hasil kolaborasi intensif antar pemangku kepentingan. "Kami telah mengevaluasi dan menganalisis, pergerakan masyarakat dengan moda darat selama arus mudik libur Natal ini berjalan aman dan lancar. Ini adalah buah kerja keras dan sinergi demi menciptakan libur akhir tahun yang selamat, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat," ujarnya.

Secara agregat, sektor penyeberangan mencatat pertumbuhan penumpang yang impresif, yakni sebesar 24,11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontrasnya, angkutan jalan, khususnya bus, justru mengalami kontraksi sebesar 6,48% pada periode yang sama.
Tren ini semakin kentara pada H+1 libur Natal 2025. Angkutan penyeberangan mencatat 188.720 penumpang, melonjak 27,01% secara tahunan. Di sisi lain, jumlah penumpang bus hanya mencapai 164.164 orang, atau menurun 13,53% dibandingkan H+1 tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi atau faktor-faktor lain yang memengaruhi pilihan masyarakat dalam bepergian, yang patut dicermati oleh para pelaku industri dan pembuat kebijakan.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif ekonomi transportasi. Lonjakan pada sektor penyeberangan bisa jadi didorong oleh peningkatan aktivitas pariwisata domestik ke destinasi kepulauan atau wilayah yang membutuhkan akses laut, serta efisiensi biaya dan waktu tempuh untuk jarak tertentu. Sebaliknya, penurunan pada angkutan bus mungkin mencerminkan beberapa faktor: pertama, peningkatan penggunaan kendaraan pribadi yang didukung oleh infrastruktur jalan tol yang semakin memadai; kedua, potensi pergeseran ke moda transportasi lain seperti kereta api atau pesawat untuk jarak menengah-jauh yang tidak tercakup dalam data ini; atau ketiga, perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih memilih fleksibilitas kendaraan pribadi pasca-pandemi.
Dugaan peningkatan penggunaan kendaraan pribadi ini diperkuat oleh data pergerakan di jalan tol. Hingga 26 Desember 2025, sebanyak 1.582.977 unit kendaraan tercatat keluar dari Jakarta melalui jalur tol, meningkat 8,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, kendaraan yang masuk ke Jakarta melalui tol mencapai 1.488.424 unit, naik 3,84% secara tahunan. Angka ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa banyak masyarakat memilih kenyamanan dan privasi kendaraan pribadi untuk perjalanan Nataru mereka, yang berpotensi mengurangi pangsa pasar angkutan umum darat.
Meskipun ada fluktuasi pada masing-masing moda, Kemenhub menekankan komitmennya untuk terus memastikan keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna jasa transportasi. Data ini akan menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah dan pelaku industri transportasi untuk merumuskan strategi yang lebih adaptif di masa mendatang, terutama dalam menghadapi dinamika preferensi konsumen dan perkembangan infrastruktur, guna menjaga keberlanjutan dan efisiensi sektor transportasi nasional.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar