55 NEWS – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyuarakan peringatan serius terkait masa depan sektor pariwisata Indonesia. Ia menegaskan urgensi reformasi menyeluruh untuk memitigasi dampak krisis global yang kian mengancam, terutama imbas konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi signifikan bagi Tanah Air.

Related Post
Menurut Airlangga, sektor vital ini kini berada di bawah tekanan signifikan akibat terganggunya konektivitas global. "Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, serta membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional," tegas Airlangga dalam keterangan resminya yang diterima 55tv.co.id di Jakarta, Rabu. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa krusialnya langkah adaptasi dan inovasi di tengah ketidakpastian global.

Proyeksi dari Kementerian Pariwisata menunjukkan potensi kerugian yang tidak main-main. Diperkirakan sekitar 5.500 wisatawan mancanegara (wisman) dapat hilang, dengan potensi kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari jika langkah mitigasi tidak segera diambil. Angka ini mencerminkan betapa rentannya sektor pariwisata terhadap gejolak eksternal dan mendesaknya intervensi kebijakan.
Data dari InJourney Airports periode akhir Februari hingga 10 Maret 2026 semakin memperkuat kekhawatiran ini. Laporan tersebut mencatat adanya gangguan pada sembilan rute internasional krusial di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai, yang berdampak pada mobilisasi 47.012 penumpang. Tantangan ini diperparah dengan tren kenaikan harga avtur global, yang secara langsung membebani biaya operasional maskapai dan berpotensi menaikkan harga tiket, sehingga mengurangi daya tarik perjalanan internasional.
Meskipun dihadapkan pada badai tantangan, Airlangga menegaskan bahwa sektor pariwisata tetap menjadi pilar penting yang harus difokuskan. Kontribusinya yang signifikan terhadap perekonomian nasional, baik dari sisi devisa maupun penciptaan lapangan kerja, menjadikannya prioritas strategis yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, reformasi struktural dan kebijakan adaptif menjadi kunci untuk memastikan sektor pariwisata Indonesia tetap resilient dan mampu bersaing di panggung global.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar