55 NEWS – Dinamika pasar keuangan global kembali menjadi sorotan tajam setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan penurunan posisi cadangan devisa Republik Indonesia. Per akhir Februari 2026, angka tersebut tercatat sebesar USD151,9 miliar, menyusut signifikan dari USD154,6 miliar yang tercatat pada akhir Januari 2026. Penurunan sebesar USD2,7 miliar ini memicu analisis mendalam mengenai ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Related Post
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa fluktuasi ini merupakan hasil interaksi kompleks antara berbagai faktor. Di satu sisi, penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, memberikan kontribusi positif terhadap cadangan devisa. Namun, di sisi lain, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah yang dilakukan oleh Bank Indonesia menjadi penyeimbang yang signifikan. Kebijakan stabilisasi Rupiah ini, menurut Ramdan, merupakan respons strategis BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.

"Posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 masih sangat memadai. Angka tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor, atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat (6/3/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id. Ia menambahkan bahwa level ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya ditetapkan sekitar 3 bulan impor, menunjukkan fundamental yang kuat meskipun terjadi pergerakan.
Bank sentral secara konsisten menilai bahwa cadangan devisa yang ada saat ini merupakan pilar penting dalam menopang ketahanan sektor eksternal, sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Optimisme BI terhadap ketahanan sektor eksternal tetap tinggi, didukung oleh fundamental ekonomi yang solid dan posisi cadangan devisa yang dinilai memadai untuk menghadapi tantangan ke depan. Penurunan ini, meskipun perlu dicermati, tidak serta-merta mengindikasikan kerapuhan, melainkan cerminan dari intervensi BI untuk menjaga stabilitas di tengah arus modal global yang bergejolak.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar