55 NEWS – Prospek sektor maritim Indonesia untuk tahun 2026 diproyeksikan akan menghadapi tantangan signifikan. Peningkatan ketegangan geopolitik global, disrupsi rantai pasok, dan eskalasi risiko keamanan di jalur pelayaran vital dunia diperkirakan akan membebani industri ini. Para pakar memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu lonjakan biaya logistik, meningkatkan kerentanan distribusi komoditas, dan pada akhirnya mengikis daya saing perekonomian nasional yang sangat mengandalkan konektivitas laut.

Related Post
Siswanto Rusdi, Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin), menyoroti bahwa gejolak global terkini akan berdampak langsung pada stabilitas perdagangan maritim di kawasan Indo-Pasifik. Ia menjelaskan bahwa eskalasi konflik internasional, seperti invasi Amerika Serikat ke Venezuela, berpotensi mengacaukan jalur perdagangan dunia dan mempertinggi ancaman keamanan maritim. "Peristiwa invasi AS ke Venezuela saat ini telah mengganggu arus perdagangan global, yang secara otomatis akan memengaruhi biaya logistik dan keamanan maritim di Indo-Pasifik," tegas Siswanto dalam Konferensi Pers Awal Tahun Namarin di Jakarta, Rabu (7/1/2025), seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Senada, Laksamana Pertama TNI Salim, Kepala Pusat Kajian Maritim Seskoal, menggarisbawahi kompleksitas dan ketidakpastian yang kian meningkat dalam lingkungan maritim global. Menurutnya, lautan telah bertransformasi dari sekadar koridor distribusi ekonomi menjadi arena strategis yang krusial, tempat bertemunya berbagai kepentingan politik, militer, dan perdagangan lintas negara.
Salim melanjutkan, peningkatan kompleksitas dan volatilitas di ranah maritim global saat ini dipicu oleh beragam faktor. Salah satu pemicu utamanya adalah persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan Tiongkok di kawasan. Selain invasi AS ke Venezuela yang baru-baru ini terjadi, potensi konflik di Selat Taiwan antara Tiongkok dan Taiwan juga menjadi ancaman yang patut diwaspadai. Dengan demikian, Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, dituntut untuk merumuskan strategi adaptif guna menjaga stabilitas ekonominya di tengah pusaran gejolak global yang tak menentu.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar