Geger! Menkeu Purbaya Buka-bukaan: Defisit APBN 2025 Rp695,1 Triliun Adalah Langkah Sengaja, Jika Tidak, Ekonomi Indonesia "Morat-Marit" Parah!

Geger! Menkeu Purbaya Buka-bukaan: Defisit APBN 2025 Rp695,1 Triliun Adalah Langkah Sengaja, Jika Tidak, Ekonomi Indonesia "Morat-Marit" Parah!

55 NEWS – Jakarta – Proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2025 yang mencapai Rp695,1 triliun, atau setara dengan 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), menjadi sorotan tajam. Angka ini, yang berada tipis di bawah ambang batas konstitusi 3 persen, bukan tanpa alasan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara lugas menyatakan bahwa pelebaran defisit ini merupakan keputusan sadar pemerintah, bahkan ia berani menegaskan bahwa memaksakan defisit 0 persen justru akan membuat "ekonomi Indonesia morat-marit".

COLLABMEDIANET

Kenaikan defisit ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan proyeksi tahun 2024 yang berada di level 2,3 persen. Target awal defisit 2025 sendiri sebenarnya dipatok di angka 2,53 persen. Namun, dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Januari 2026, Purbaya menjelaskan bahwa pelebaran defisit menjadi 2,92 persen merupakan bagian integral dari kebijakan countercyclical yang disengaja. Strategi ini diambil guna memastikan roda perekonomian nasional tetap berputar dan berekspansi di tengah tekanan global yang diperkirakan masih kuat sepanjang 2025.

Geger! Menkeu Purbaya Buka-bukaan: Defisit APBN 2025 Rp695,1 Triliun Adalah Langkah Sengaja, Jika Tidak, Ekonomi Indonesia "Morat-Marit" Parah!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi," ujar Purbaya. Ia menekankan bahwa langkah ini esensial untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, yang berpotensi tergerus jika pemerintah memilih jalur penghematan ekstrem.

Purbaya secara gamblang menyatakan bahwa opsi untuk memangkas belanja demi mencapai defisit 0 persen memang ada, namun pilihan tersebut akan berujung pada kehancuran ekonomi. "Saya buat defisit 0 persen juga bisa tapi ekonomi morat-marit," tegasnya, menggarisbawahi dilema krusial antara disiplin fiskal ketat dan kebutuhan stimulus ekonomi. Menurutnya, pemerintah bisa saja memotong belanja secara drastis, namun hal itu akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Meskipun demikian, Purbaya mengapresiasi kerja keras jajarannya di Kementerian Keuangan yang berhasil menjaga defisit tetap di bawah ambang batas konstitusi 3 persen. Menurutnya, pencapaian ini menunjukkan kehati-hatian fiskal yang luar biasa di tengah kondisi yang penuh tantangan. "Kita pastikan di bawah 3 persen ini adalah standar yang paling ketat. Jadi kita mengacu ke sana terus walaupun keadaan agak menekan kita," tambahnya. Ia juga memuji kepiawaian timnya: "Ini kepiawaian teman-teman Kemenkeu untuk jaga fiskal. Kita jaga defisit di bawah 3 persen walau keadaan agak menekan kita," sebagaimana dikutip dari 55tv.co.id.

Menatap ke depan, Purbaya optimistis bahwa stimulus yang digelontorkan pada 2025 akan membuahkan hasil positif pada 2026. Dengan fondasi ekonomi yang diharapkan lebih kokoh, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4 persen dan berencana untuk mulai menekan kembali angka defisit ke level yang lebih rendah. "Saya yakin 2026 dengan membaiknya fondasi ekonomi dan momentum ekonomi ke depan, defisit bisa ditekan dengan dampak ekonomi ke masyarakat lebih besar. Tahun ini, kita asumsikan ekonomi 5,4 persen, kita coba tekan ke level lebih tinggi lagi," pungkasnya.

Dengan demikian, Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mengelola keuangan negara secara adaptif. Tujuannya adalah memastikan masyarakat dapat terus merasakan dampak pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tanpa mengabaikan pentingnya keberlanjutan fiskal jangka panjang demi stabilitas ekonomi nasional.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar