55 NEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terang-terangan melontarkan kritik keras terhadap World Bank (WB) terkait pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kawasan Asia Timur-Pasifik. Purbaya bahkan menuding lembaga keuangan global itu telah melakukan "dosa besar" karena merilis estimasi yang dinilai keliru dan berpotensi menciptakan sentimen negatif di pasar keuangan. Pernyataan tegas ini disampaikan di tengah optimisme pemerintah terhadap fundamental ekonomi domestik yang kokoh.

Related Post
Sebelumnya, World Bank merilis proyeksi terbaru yang mengindikasikan perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Angka tersebut dipangkas dari 5 persen pada tahun 2025 menjadi 4,2 persen pada 2026, dan sedikit meningkat ke 4,4 persen pada 2027. Khusus untuk Indonesia, World Bank memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi 4,7 persen, turun tipis dari proyeksi sebelumnya di angka 4,8 persen. Penurunan ini memicu reaksi keras dari Menkeu Purbaya.

Menanggapi hal ini, Purbaya menegaskan optimisme pemerintah terhadap fundamental ekonomi nasional yang solid dan kinerja keuangan yang stabil sejauh ini. Ia menduga, penurunan proyeksi oleh World Bank terlalu menitikberatkan pada dampak inflasi harga minyak global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, faktor tersebut bersifat temporer dan tidak mencerminkan daya tahan serta resiliensi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
"Triwulan pertama saja (pertumbuhan ekonomi) mungkin 5,5 persen, 5,6 persen atau lebih. Berarti World Bank itu kita mau resesi (ekonomi), turun ke bawah sekali, setelah itu kan kalau rata-ratanya ke 4,6 persen. Saya pikir World Bank salah hitung," ujar Purbaya dengan nada tegas saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan pada Kamis (9/4/2026), menunjukkan keyakinannya bahwa proyeksi WB jauh di bawah realita.
Purbaya menambahkan bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang dirilis oleh World Bank berisiko menimbulkan sentimen negatif yang tidak perlu bagi perekonomian. Ia menekankan bahwa fluktuasi harga minyak dunia, yang menjadi salah satu parameter utama proyeksi World Bank, seringkali bersifat jangka pendek dan tidak seharusnya menjadi dasar untuk proyeksi jangka menengah yang pesimistis.
"Kalau sebulan harga minyak turun, World Bank pasti akan merubah prediksinya. Dia sudah melakukan dosa besar. Dia menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah baik lagi ke level yang normal," pungkas Purbaya, menuntut pertanggungjawaban dari lembaga tersebut atas dampak sentimen yang mungkin ditimbulkan oleh rilis proyeksi tersebut.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar