55 NEWS – Pekan kedua Februari 2026 menjadi saksi bisu geliat positif pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan kenaikan signifikan, ditambah dengan masuknya instrumen obligasi dan sukuk baru ke lantai bursa, mengindikasikan bahwa reformasi yang digulirkan oleh otoritas mulai membuahkan hasil nyata. Perkembangan ini tidak hanya mencerminkan optimisme pasar, tetapi juga menegaskan komitmen kuat dalam membangun ekosistem investasi yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Related Post
Komitmen kuat terhadap integritas dan transparansi pasar modal ditegaskan dalam konferensi pers bersama antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Senin (9/2). Mereka menggarisbawahi percepatan reformasi melalui langkah-langkah komprehensif, terukur, dan berkelanjutan. Fokus utama mencakup peningkatan transparansi kepemilikan, penguatan data investor yang lebih granular, serta penyesuaian kebijakan free float secara bertahap. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pasar yang lebih sehat, adil, dan menarik bagi investor domestik maupun internasional.

Tak hanya berfokus pada reformasi internal, BEI juga menunjukkan kepemimpinannya dalam mendorong keuangan berkelanjutan. Pada Rabu (11/2/2026), BEI menjadi tuan rumah ASEAN Climate Forum (ACF) 2026 di Main Hall-nya. Forum internasional prestisius ini, hasil kolaborasi ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC), ASEAN Alliance on Carbon Markets (AACM), Kadin Indonesia, Equatorise Advisory, dan dukungan BEI, menjadi platform krusial untuk membahas transisi energi yang adil, investasi berbasis iklim, dan penguatan ekosistem pasar karbon di kawasan ASEAN. Kehadiran Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Wakil Perdana Menteri Malaysia YAB Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof, serta Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, menegaskan bobot dan urgensi forum ini dalam agenda ekonomi hijau regional.
Geliat pasar juga tercermin dari pencatatan instrumen baru yang menambah kedalaman pasar. Pada Kamis (12/2/2026), Obligasi Berkelanjutan I Hino Finance Indonesia Tahap II Tahun 2026 senilai Rp800 miliar resmi dicatatkan di BEI, dengan peringkat idAA+ dari PEFINDO dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai Wali Amanat. Sehari berselang, Jumat (13/2/2026), giliran Obligasi Berkelanjutan VII Tower Bersama Infrastructure Tahap III Tahun 2026 senilai Rp889 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tower Bersama Infrastructure Tahap III Tahun 2026 senilai Rp210,1 miliar turut meramaikan pasar. Kedua instrumen Tower Bersama Infrastructure ini mendapatkan peringkat AA+(idn) dari Fitch Ratings Indonesia, dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk sebagai Wali Amanat. Pencatatan ini menunjukkan kepercayaan emiten terhadap pasar modal Indonesia sebagai sumber pendanaan yang vital.
Secara akumulatif, total emisi obligasi dan sukuk sepanjang tahun 2026 telah mencapai 19 emisi dari 13 emiten dengan nilai total Rp14,56 triliun. Angka ini menambah daftar panjang instrumen yang tercatat di BEI, yang kini berjumlah 671 emisi dengan nilai outstanding mencapai Rp548,61 triliun dan USD134,01 juta dari 133 emiten. Tak hanya itu, Surat Berharga Negara (SBN) tercatat sebanyak 190 seri senilai Rp6.674,24 triliun dan USD352,10 juta, sementara Efek Beragun Aset (EBA) mencapai 7 emisi dengan nilai Rp3,69 triliun. Data ini menegaskan posisi pasar modal Indonesia sebagai tulang punggung penting perekonomian nasional yang terus tumbuh dan beradaptasi dengan dinamika global.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar