55 NEWS – Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membuat gebrakan signifikan dengan memangkas target produksi batu bara untuk tahun 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Keputusan drastis ini, yang jauh menurun dari total produksi 790 juta ton pada tahun 2025, diambil dalam upaya menstabilkan harga komoditas strategis ini sekaligus memastikan keberlanjutan sumber daya bagi generasi mendatang.

Related Post
Pengumuman tersebut disampaikan Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM 2025 pada Kamis (8/1/2026) di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa Kementerian ESDM, bersama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), telah merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. "Kami telah memutuskan untuk merevisi RKAB. Produksi batu bara akan diturunkan agar harga tetap stabil, dan yang terpenting, sumber daya ini dapat diwariskan untuk anak cucu kita," tegas Bahlil, seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Bahlil menekankan filosofi pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang tidak boleh hanya berorientasi pada eksploitasi habis-habisan di masa kini. Menurutnya, keberlanjutan adalah kunci. "Jangan sampai kita berpikir mengelola SDA itu harus dihabiskan semua sekarang. Bangsa ini harus terus berjalan, lingkungan harus dijaga, dan aspek keadilan tetap diperhatikan," ujarnya, sembari menegaskan bahwa target produksi sekitar 600 juta ton adalah angka yang realistis dan bertanggung jawab.
Langkah pengurangan produksi ini juga menjadi respons terhadap dinamika harga batu bara global yang cenderung menurun. Dengan pasokan yang lebih terkontrol, diharapkan tekanan terhadap harga dapat diredam, menjaga nilai jual komoditas andalan ekspor Indonesia ini. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, total produksi batu bara Indonesia mencapai 790 juta ton, dengan komposisi ekspor mendominasi sebesar 65,1% dan sisanya 32% dialokasikan untuk kebutuhan domestik.
Keputusan ini tentu akan memicu diskusi di kalangan pelaku pasar dan investor. Di satu sisi, langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap pengelolaan SDA yang lebih bijaksana dan berorientasi jangka panjang, sejalan dengan agenda transisi energi global. Di sisi lain, pengurangan volume produksi bisa berdampak pada pendapatan negara dari sektor pertambangan dalam jangka pendek, meskipun potensi stabilisasi harga diharapkan dapat mengkompensasi sebagian. Ini adalah pertaruhan strategis yang menyeimbangkan antara keuntungan ekonomi saat ini dan tanggung jawab ekologis serta warisan masa depan.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar