55 NEWS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (29/8/2025), dengan sempat anjlok hingga 2% di sesi pagi. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya IHSG juga mengalami aksi jual oleh para investor. Apa yang sebenarnya terjadi?

Related Post
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: Apakah fundamental ekonomi Indonesia sedang bermasalah? Menurut Hendra Wardana, pengamat pasar modal dan Founder StockNow, tekanan jual ini tidak hanya disebabkan oleh faktor global yang memang sedang kurang kondusif, tetapi juga oleh sentimen domestik yang memburuk secara signifikan.

Gelombang aksi massa yang melanda Jakarta dan beberapa daerah lain menjadi pemicu utama kekhawatiran. Aksi ini dinilai menciptakan ketidakpastian politik yang langsung direspon negatif oleh pasar keuangan. Investor, baik asing maupun domestik, bereaksi cepat dengan strategi "wait and see" atau bahkan melepas aset untuk menjaga likuiditas.
"Pasar modal itu sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu ada potensi risiko keamanan, investor cenderung menahan diri, bahkan melepas portofolio untuk mengamankan posisi likuid," jelas Hendra.
Dampak dari gejolak sosial ini tidak hanya terbatas pada pasar saham. Nilai tukar Rupiah juga ikut merasakan imbasnya, dengan fluktuasi yang semakin tidak menentu. Situasi ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan.
Hendra menambahkan, sorotan media internasional terhadap situasi di Indonesia semakin memperburuk keadaan. Investor global menjadi lebih waspada dan cenderung menghindari investasi di pasar yang dianggap berisiko. Informasi ini dikutip dari 55tv.co.id.
Pemerintah dan otoritas terkait perlu segera mengambil langkah-langkah konkret untuk meredam gejolak sosial dan memulihkan kepercayaan investor. Stabilitas politik dan keamanan adalah kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menarik investasi. Jika tidak, IHSG dan Rupiah berpotensi terus tertekan, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar