Jebakan Usia Emas? Mayoritas Pekerja Indonesia Dipaksa Terus Berkarya Setelah Pensiun, Benarkah Ada Krisis Finansial di Baliknya?

Jebakan Usia Emas? Mayoritas Pekerja Indonesia Dipaksa Terus Berkarya Setelah Pensiun, Benarkah Ada Krisis Finansial di Baliknya?

55 NEWS – Sebuah survei terbaru mengungkap realitas mencengangkan di pasar tenaga kerja Indonesia: hampir 77% pekerja memperkirakan akan tetap aktif berkarier bahkan setelah memasuki usia pensiun. Fenomena ini mengindikasikan adanya dua spektrum yang kontras di masyarakat; sebagian memilih untuk tetap produktif demi fleksibilitas dan kesejahteraan pribadi, sementara mayoritas lainnya terpaksa melanjutkan karena desakan kebutuhan finansial yang tak terhindarkan.

COLLABMEDIANET

Data ini menggarisbawahi tantangan serius dalam kesiapan pensiun di Indonesia. Tekanan biaya hidup yang terus meningkat dan kebutuhan jangka panjang menjadi pendorong utama bagi 71% responden untuk mencari penghasilan tambahan pasca-pensiun. Di sisi lain, sebagian kecil melihat bekerja di usia senja sebagai sarana untuk menjaga tujuan hidup (48%), koneksi sosial (48%), dan stimulasi mental (36%), menunjukkan bahwa motivasi untuk tetap berkarya tidak selalu murni finansial.

Jebakan Usia Emas? Mayoritas Pekerja Indonesia Dipaksa Terus Berkarya Setelah Pensiun, Benarkah Ada Krisis Finansial di Baliknya?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kondisi ini diperparah oleh pergeseran demografi yang signifikan. Pada tahun 2023, sekitar 30,9 juta penduduk Indonesia telah mencapai usia 60 tahun ke atas, atau 11,1% dari total populasi. Angka ini diproyeksikan melonjak drastis menjadi 64,9 juta (20,5%) pada tahun 2050. Tanpa perencanaan pensiun yang matang dan cenderung ditunda, serta potensi disrupsi dari adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin mandiri, kesenjangan kesiapan pensiun berisiko semakin melebar, menciptakan tekanan ekonomi dan sosial yang signifikan.

Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, dalam pernyataannya kepada 55tv.co.id pada Sabtu (14/2/2026), menyoroti dikotomi ini. "Kami melihat dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani," jelasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa perencanaan finansial yang proaktif adalah kunci untuk menentukan apakah masa pensiun akan menjadi periode pilihan atau kewajiban.

Riset ini secara eksplisit membedakan dua kategori utama dalam konteks pensiun: ‘Gold Star Planners’ dan ‘Stalled Starters’. ‘Gold Star Planners’ adalah individu yang telah mencapai kemapanan finansial, memungkinkan mereka untuk secara strategis memilih kapan dan bagaimana mengurangi beban pekerjaan mereka, bahkan mungkin beralih ke aktivitas yang lebih sesuai dengan minat pribadi. Sebaliknya, ‘Stalled Starters’ adalah mereka yang terpaksa menunda masa pensiun karena keterbatasan finansial, menjebak mereka dalam siklus kerja yang berkelanjutan demi memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan jangka panjang.

Implikasi dari temuan ini sangat krusial bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan individu. Ini menekankan urgensi peningkatan literasi keuangan di kalangan masyarakat, pengembangan produk pensiun yang lebih adaptif dan mudah diakses, serta perumusan kebijakan yang mendukung transisi usia lanjut yang bermartabat dan mandiri, bukan sekadar respons terhadap tekanan ekonomi.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar